Jumat, 31 Agustus 2012

SAJAK


TATUNG


ritual glittering which you serve
in a baking dish of the world
not means how much crucial
to guess the meaning of the day
jump from one line
to another line
restore white – black
even hunt disastrous
sculptured soul incarnated wadag
the spirits imagining

sat down elegant
on a throne of honor of  the gods
recite the choice breaths
be wrapped in blood
hio burst by flavor stab sudra
float leaden sky
then release in the float
endless ocean

vague, your face was transformed fog
vessel pierced greedy
glimpse of destiny is already anchored
in both your eyes
and finally your mystical trip
vanished, is stretched lives.

Post DSI (Ketapang), 02/13/2012

SAJAK


APA YANG  KAU CARI ?

Apa yang kau cari, sayangku?
setelah nanti ajal mengencang jasad
menuai petang selusur riol-riol
selaras selasar gubug yang engkau buru
apa yang kau cari, manisku?
sepanjang tetesan testis menghunjam rahim
sketsa rupa-rupa bungah
tak tentu dalil apa yang terpakai
apa yang kau cari dariku?
apa yang kau cari darimu?
apa yang kau cari dari kita?
apa yang kau cari dariNya?
apa yang kau cari sudah terbuang dalam keremangan malam
apa yang kau cari sudah terkunci dalam genggam murkaku
apa yang kau cari tak tertuang pada lembaran nirwana
apa yang kau cari tak tercantum pada akad-akad pujaan
apa yang kau cari akan kuserapah datangnya
apa yang kau cari akan kuusir kembaranya
apa yang kau cari kelak menatahkan aib seribu tuba
apa yang kau cari kelak menyiratkan dendam sepasang juriat
apa yang kau cari, sayangku?
apa yang kau cari, manisku?
apa yang kau cari, tak pernah ada pada kumisku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada cambangku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada janggutku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada jantanku
apa yang kau cari tak habis-habisnya mengais sebaya masa
apa yang kau cari hanyalah wujud kesempurnaan belaka
apa yang kau cari, jangan kau cari, sebab, yang kau cari
tak pernah ada dalam saku celana bututku!


Pontianak, 1994. 

Sabtu, 25 Agustus 2012

SAJAK


MENUGAL  GAIRAH  KEMBARA
(menanti di kesenjangan masa)

Dingin menusuk sekujur rasa
jemari tlah merapat menanti hangat
detak waktu kian dekati arah janjimu
sementara nafas tak seliar dulu lagi
tertatih
redup di genggam-Nya
pun masa semakin jauh merentang usia.

Ketapang, 25072012




KETIKA  JINGGA  CINTA

Cinta tak sekedar menggodam rasa
Sayang melontar di ujung lidah
Rona memerah remahkan
Balutan sunyi menggugur.

Ketapang, Juli 2012



MENUNGGU GARIS JANJI-MU

Ketika semilir angin
tak berhembus semestinya
timpang sanggah amarah langit
berderak pecah mega
gemuruh dada cakrawala
membetas pinta karang ragu
dan gertak pupus
seiring pudar sorot surya kenanga
tunduk lesu harap mengubah hasrat
yang tadinya hendak bersenyawa
dalam kungkungan duniawi
ya – Khalik,
aku hanya butuh kun faya kun MU saja
untuk melepaskan penatnya
keangkuhan raga semata
sementara dacing perilaku umat
tegak di jalurnya
tinggal menunggu hari
yang berlaku dalam garis janjiMU.

Ketpang (Panwas), 240712

SAJAK


DE  JAVU
( suatu malam di garis batas angan )

Seperti dulu
kepakmu tetap saja membekas
pada palung rasa terdalam
membangkitkan arsiran-arsiran kenangan
membaur simpati tertata rapi di sudut ruang hati

seperti dulu
ketika petang memburu cakrawala tergugu
putihmu benderang sayat kisi-kisi malam
hasrat berpacu ukir impian yang sekian lama
terhalang cengkraman setengah purnama
berbilang kata-kata kecewa

seperti dulu
mungkinkah indah setia menjalani perjalanan makna
walau sejujurnya hujan angan kian menyempit
menambat kelu dalam pelabuhan asmara.

Ketapang, Agustus 2012

SAJAK


NYANYIAN PANTAI UTARA


Memilin kitaran hikayat
pasir saktimu
bak tikamkan
gurindam keraton
cak uncang
madah dare-dare pantai utara
digaul
cengkerama bedug masjid
di alun-alun
bergetar atma sultan-sultan
di ulu
lalu padu diri
dan
kita pun ada di zamannya.

Pontianak’86

PROFIL PENYAIR


WYAZ (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) IBN SINENTANG lahir di kota Pontianak tanggal 24 April 1966. Mulai menulis puisi sejak tahun 1980. Selain puisi juga menulis cerita pendek, dan artikel. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal,  nasional, maupun negeri jiran antara lain; Hr.Akcaya, Hr.Merdeka, Hr.Angkatan Bersenjata, Hr.Berita Yudha, Hr. Suara Karya, Mimbar Untan, Pabelan Pos,  Dwi Mingguan Mutiara,    Tabloid Keluarga, SKM Kemudi,  SKM Swadaya, SKM Swadesi, SKM Symponi, SKM Bintang Indonesia, SKM Inti Jaya, SKM Bharata, Majalah Suara Ummah, Majalah Suara Muhammadiyah, Majalah Kiblat, Majalah Radar, Hr. Mimbar Umum Medan, Majalah Ceria Remaja, Majalah Nashiha, Dinamika News Lampung, Majalah Budaya Sagang, Radio Singapore, penulistanahkayong.blogspot.com, puisi-mania.com, puisidansastra.com, e-sastera.com, jendelasastra.com, kuflet.com, kemudian.com, gudangpuisi.com,  apresiasipuisi.multiply.com, letterater.com, Horison Online, Koran-Cyber.com.   Karyanya juga terangkum dalam beberapa kumpulan bersama; Antologi Puisi BANGKIT III (Studio Seni Sastra Kota Batu, 1996), JEPIN KAPUAS RINDU PUISI (DKKB, 2000), ANUGERAH KHATULISTIWA (Literer Khatulistiwa, 2011), SENANDUNG ALAM (Leutika Prio, 2012), CAHAYA KHATULISTIWA DI TAMAN KATA (DKKP, 2012), GORESAN PENA UNTUKMU (AG Litera, 2012),  MERINDU RASUL DALAM SAJAK (Seruni Publishing, 2012),  DIVERSE ( Shell-Jagad Tempurung, June 2012 ), SUARA LIMA NEGARA (Tuas Mediamja, 2012), JANGAK (Kelopak Poedjangge, 2012), Antologi Cerpen KAIN TILAM (DKKB, 1998), ORANG-ORANG DI BATAS GARIS (Tuas Mediamja, 2012),    TENTANG BULAN (Leutika Prio, 2012), MUTIARA BERDEBU (Pustaka Awan, 2012), AIDS BERCERITA (Leutika Prio, 2012), MELUKIS MIMPI (Seruni, 2012), eBook Antologi Cerpen bunga rampai Cerita Pendek (cerpen-kita.weebly.com Juni 2012), dan Antologi  Puisi tunggalnya BERSAMA HUJAN (Kelompok Empat Kreatif, 2011).
        Pernah tergabung dalam KOMPAK (Kelompok Penulis Pontianak), Sanggar CS2K (Cipta Sastra Swara Khatulistiwa), Bengkel Sastra Kalbar, salah satu pendiri IPSKH (Ikatan Penulis Sastra Kota Hantu), Komite Sastra DKKP (Dewan Kesenian Kota Pontianak) tahun 2002, penggagas Komunitas Sastra Pinggiran Bunga Trotoar, penggagas Diskusi Sastra Imajiner Kembang Gula, owner KELOPAK POEDJANGGE.  
        Tahun 1995 menghadiri Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka di Taman Budaya Solo, mengikuti Dialog KALIMANTAN-BORNEO IV di Pontianak (Kalimantan Barat) tahun 1995. Pernah
mendukung pementasan teater; KERETA KENCANA (Sutradara Totok S.Raharjo, th 1994) sebagai Penata Lampu, MEGA-MEGA (Sutradara Totok S.Raharjo, th 1996) sebagai pelakon (Tukijan).
        Saat ini menetap di kota Ketapang, Jl. Gatot Subroto Gg. Hadi, Payak Kumang. Email: wahyudi.yudi4@gmail.com.

































Cerpen Anak


Kisah Mencekam Di Malam Halloween
( karya : Annisa Melyana Andhiani )
            Di saat malam Halloween, para anak-anak dan remaja-remaja merayakan malam tersebut dengan sangat meriah. Mereka mengenakan pakaian seram layaknya sesosok yang menakutkan seperti penyihir, setan, hantu goblin dan sosok menakutkan lainnya. Tradisi perayaan malam Halloween ini di rayakan tepat pada setiap tanggal 31 Oktober. Selain mengenakan pakaian seram, mereka juga meminta permen atau coklat ke rumah-rumah tetangga sambil berkata “trick or treat!”.
           Dan di suatu malam Halloween, ada seorang anak berumur sekitar 11 tahun sedang menghiasi rumahnya dengan lampu gantung berwarna-warni dan menaruh sejumlah Jack o’-latern  (yang sering kita sebut dengan labu Halloween) di depan pintu rumahnya. Anak itu menaruh lilin di dalam labu-labu yang ia pajang, agar kelihatan lebih terang dan lebih menakutkan di saat malam mulai gelap.
           “Hai Elena!” sapa sekelompok anak yang sedang berjalan-jalan.
           “Hai teman-teman!” sapa Elena kembali.
           Elena lalu menghampiri teman-temannya dan ikut mereka meminta permen dan coklat ke rumah tetangga mereka.
 “Elena, apa yang sedang kau lakukan tadi saat di rumah?” tanya seorang temannya.
 “Aku hanya menghias rumahku dengan pernak-pernik Halloween,” jawab Elena.
“Oh....begitu,” ucap sang teman.
 Di saat malam sudah mulai larut, mereka ingin pulang ke rumah masing-masing. Tapi, Dominic mengajak teman-temannya mencari apel dan meminta permen ke rumah-rumah orang yang tinggal di dalam hutan Ebeline. Mendengar usul temannya itu, Elena menolak ajakan temannya tersebut. Karena hutan Ebeline adalah hutan yang sangat menyeramkan.
           “Teman-teman, aku tak mau ikut bersama kalian,” kata Elena kepada teman-temannya.
           “Mengapa kau tak mau ikut Elena?” tanya Dominic.
           “Aku takut pergi ke hutan tersebut, ibuku pasti akan mencariku. Dan kalian pasti tahu sendiri kan, hutan itu sangat menyeramkan,” jawab Elena takut.
           “Kamu ini bagaimana sih Elena, kita kan sudah besar, seharusnya kita tak harus takut dengan hal-hal yang menyeramkan seperti itu! Tapi terserah kamu saja, kalau kamu tak mau ikut juga tidak masalah, kami bertiga saja yang akan pergi ke hutan itu,” ujar Dominic kecewa.
           Ketiga teman Elena pun segera pergi ke hutan Ebeline. Sedangkan Elena kembali pulang ke rumahnya. Tapi, sebelum Elena pulang ke rumah, ia mempunyai firasat buruk akan kepergian teman-temannya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hutan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul teman-temannya tersebut dengan hati gelisah.
           Sesampainya di hutan Ebeline, Elena memanggil nama teman-temannya.
“Dominic, Andreas, Vanessa! Dimana kalian?!” panggil Elena.
           “Percuma saja,” kata seseorang tiba-tiba yang tak terlihat wujudnya oleh Elena.
           “Suara siapa itu?”  tanya Elena.
           “Ya, percuma saja kau mencari teman-temanmu itu. Karena pasti mereka sudah menjadi santapan penyihir,” ucap seekor kucing berwarna kuning keemasan yang menghampiri Elena dengan tiba-tiba.
           “Hahh? Siapa kau?” tanya Elena dengan heran.
           “Perkenalkan, aku Catline, si kucing pemberani,” jawab kucing itu.
           “Oh ya? Darimana kau tahu kalau teman-temanku sekarang sudah menjadi santapan penyihir?” tanya Elena kembali.
           “Tentu saja aku tahu. Aku ini sudah lama tinggal di hutan ini. Jadi, aku banyak tahu tentang keadaan hutan Ebeline,” jawab sang kucing.
           “Oh....begitu ya. Kalau begitu, kau mau tidak menemankanku untuk mencari teman-temanku?”
           “Emmm....mau, tapi aku tak bisa menjamin kalau teman-temanmu itu masih bisa selamat.”
           “Baiklah....ayo kita cari mereka sekarang!” ucap Elena  semangat.
           Akhirnya, Elena dan Catline pergi bersama mencari teman-temannya. Saat di tengah perjalanan, Catline mencium aroma kue di tengah-tengah rerimbunan pohon di hutan.
           “Sepertinya aku ada mencium aroma kue yang lezat, Elena,” kata Catline.
 “Oh ya? Lebih baik kita mencari asal dari bau itu saja, siapa tahu di sekitar sini ada terdapat rumah-rumah penduduk,” ujar Elena.
           Merekapun segera mencari asal dari aroma kue tersebut, hingga mereka menemukan sebuah rumah kecil di tengah-tengah hutan. Aroma yang mereka cari ternyata berasal dari rumah tersebut. “Permisi!” kata Elena sambil mengetuk pintu rumah itu.
 “Ya, sebentar?” Sahut seseorang dari dalam sambil membuka pintu rumahnya. Dan munculah seorang gadis kecil berambut coklat dari dalam rumah itu.
 “Kalian siapa ya? Ada perlu apa?” tanya gadis tersebut.
 “Aku Elena dan ini temanku Catline,” jawab Elena.
 “Oh....ada perlu apa kalian kemari?” tanya gadis itu lagi.
 “Di saat kami sedang dalam perjalanan, kami mencium aroma kue yang tampaknya sangat lezat. Dan kami mencari-cari asal aroma tersebut, hingga kami menemukan rumahmu di tengah-tengah hutan ini,” ujar Elena.
 “Oh begitu. Ya sudah, silahkan masuk.” Kata gadis kecil itu.
           Di dalam rumah gadis itu, Elena dan Catline di beri kue coklat yang sangat lezat. Dan gadis itu memperkenalkan namanya, gadis itu bernama Melissa. Ia tinggal di rumah ini sendirian. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kayu bakar di hutan ini dan nantinya akan di jual ke pasar di pinggiran kota.
          “Oh ya, apakah kamu ada melihat teman-temanku lewat di sekitar sini?” tanya Elena dengan penasaran.
 “Seperti apa ciri-ciri mereka?” Tanya Melissa kembali.
 “Mereka berjumlah 3 orang, yaitu Dominic, Andreas, dan Vanessa. Kalau Dominic berambut gelap, memakai pakaian kelelawar. Andreas berambut pirang, memakai pakaian drakula, dan Vanessa berambut coklat, memakai pakaian peri,” ujar Elena.
 “Oh ya! Aku pernah melihat mereka di sekitar sini. Tadi mereka pergi ke arah timur, tampaknya mereka akan meminta permen ke rumah Penyihir jahat,” jawab Melissa dengan raut wajah serius.
 “Hahh?! Yang benar? Rumah penyihir itu dimana?” tanya Elena dengan panik.
 “Rumah penyihir itu tak terlalu jauh dari sini, tapi kau harus berhati-hati jika menemui Penyihir itu, sebab ia dapat berubah wujud menjadi apa saja dan siapa saja,” ucap Melissa.
 “Baiklah, kami akan pergi kesana,” kata Elena.

@@@@@

          Tak lama menunggu, Elena dan Catline pun segera meninggalkan rumah Melissa, dan bergegas pergi, agar cepat sampai di rumah Penyihir tersebut. Di dalam perjalanan, Elena dan Catline di kejutkan dengan munculnya kabut putih dengan tiba-tiba, dan mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas di dalam hutan. Kemudian, dengan tiba-tiba munculah seorang perempuan dari balik kabut putih itu. Elena dan Catline pun terkejut.
          “Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di tengah hutan gelap seperti ini? Apakah kalian tak takut bila ada Penyihir jahat melihat kalian dan akhirnya dia menangkap kalian dan di bawanya pulang ke rumah untuk di jadikan santapannya yang lezat?” ujar perempuan itu.
 “Siapa kau?” tanya Elena dengan wajah penasaran.
 “Aku Viona. Tampaknya kalian sedang mencari sesuatu. Kalian sedang mencari apa?” tanya perempuan itu.
 “Ya, kami memang sedang mencari teman kami. Apa kau pernah melihat mereka? Mereka berjumlah 3 orang,” tanya Elena.
“Oh, sepertinya aku tahu orang yang sedang kalian cari. Sepertinya mereka sedang menuju ke rumah Penyihir jahat. Kalau tak keberatan, aku mau mengantarkan kalian ke rumah Penyihir itu,” jawab Viona.
 “Ya. Sepertinya itu ide yang bagus!” Kata Elena dengan tersenyum gembira.
 “Tapi, apa kau tak takut mengantarkan kami ke rumah Penyihir jahat? Dia kan Penyihir yang jahat,” tanya Elena.
 “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu,” jawab Viona.
           Merekapun segera pergi ke rumah Penyihir. Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah Penyihir itu.
          “Ayo, aku antar masuk ke rumahnya,” ajak Viona.
 “Wow....berani sekali dia masuk ke rumah Penyihir jahat,” ujar Elena dalam hati.
 Mereka pun mengetok pintu Penyihir, tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah tersebut. Rumah itu tampak seram dan sepi. Elena, Catline, dan Viona pun segera masuk ke dalam rumah Penyihir itu. Tanpa Elena sadari, Viona dengan pelan menutup pintu rumah itu dan ia pun berubah dengan tiba-tiba menjadi sesosok Penyihir. 
Ia berkata, “Hahahaha.......kalian sudah tertipu!” ucap Penyihir itu.
Ternyata Viona itu adalah seorang Penyihir yang menyamar menjadi orang baik.
          Penyihir jahat itu pun langsung mengikat Elena dan Catline dan menyekap mereka berdua di dalam ruangan yang gelap. Penyihir itu akan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak Elena dan Catline. Ternyata, Dominic, Andreas, dan Vanessa juga disekap oleh Penyihir di ruangan yang sama. Sehingga mereka bertemu, tapi mereka sekarang sedang di ikat dan tak bisa berbuat apa-apa.
 Di saat mereka sedang kebingungan mencari cara untuk lari dari rumah si Penyihir, tiba-tiba Catline mempunyai ide bagus. Catline segera memutuskan tali yang mengikat mereka dengan kuku Catline yang tajam. Tak lama kemudian, mereka semua lepas dari ikatan si Penyihir.
           Mereka segera mengatur rencana agar bisa melumpuhkan si Penyihir dan dapat lolos darinya. Dominic dan Andreas akan bersembunyi di bawah meja dapur si Penyihir, sedangkan Elena, Vanessa dan Catline akan memasukkan ramuan di dalam minuman si Penyihir agar Penyihir merasa pusing dan akan kehilangan semua kekuatannya.
          Di saat Penyihir sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, Elena, Vanessa dan Catline memasukkan ramuan itu ke dalam minuman si Penyihir.
Sekitar 20 menit, Penyihir jahat itu kembali lagi ke rumahnya, karena merasa letih, dia langsung meminum minumannya tersebut. Ia sama sekali tak tahu bahwa minumannya itu sudah di beri ramuan yang dapat membahayakan dirinya.  
Setelah ia meminum minumannya, Penyihir sangat merasa pusing, dan dia juga terlihat lemah. Melihat kejadian itu, Dominic dan Andreas yang berada di bawah meja pun langsung meletakkan tali di atas lantai, dan segera menariknya saat si Penyihir sedang pusing.
 “Gubraaakkkk!!!!!!!!” Si Penyihir langsung terjatuh kesakitan.
 “Yeeeyyy!!!!!!!!! Kita berhasil!” Teriak Dominic, Elena, Andreas, Vanessa dan Catline dengan gembira.
 “Awas kalian ya! Aku akan membalas perbuatan kalian kepadaku! Lihat saja nanti!” ucap si Penyihir jahat.
 “Oh ya? Silahkan saja kalau kau mau membalas kami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, karena semua kekuatanmu sudah lenyap,” jawab Elena.
 “Apa? Itu tidak mungkin! Aku masih mempunyai banyak kekuatan,” ucap si Penyihir.
 “Kalau kalian tak percaya, aku akan membuktikannya kepada kalian. Lihat ini, jurus mematikan!!!!” ucap si Penyihir jahat sambil mengucapkan mantranya.
 Tapi, mereka semua terdiam.
 “Hah?! Kemana semua kekuatanku? Kekuatanku hilang!” kata si Penyihir dengan wajah kecewa.
 “Kan sudah kami bilang, kekuatanmu itu sudah lenyap,” ujar Vanessa sambil tersenyum.
Dengan wajah yang hina, si Penyihir mencoba untuk lari dari anak-anak tersebut. Tapi, belum sempat melarikan diri, Penyihir jahat itu berubah menjadi sebuah labu Halloween.
           Anak-anak itu semua sangat merasa bahagia, begitu juga dengan Catline. Kini mereka semua bisa pulang ke rumah mereka masing-masing.
          Dan akhirnya Dominic, Andreas dan Vanessa merasa menyesal karena tak mau mengikuti nasehat Elena.
 “Elena, kami minta maaf ya. Karena kami tak mau mendengarkan nasehatmu,” ucap mereka bertiga dengan rasa bersalah.
 “ Iya, tidak apa-apa. Anggap saja itu semua pelajaran berharga untuk kalian semua,” jawab Elena dengan tersenyum.
 Mereka semua tak mau lagi pergi ke hutan Ebeline, karena mereka semua sudah tahu bahwa hutan Ebeline itu sangat berbahaya.*****






BIODATA

Annisa Melyana Andhiani, lahir di Kota Pontianak 10 September 1999. Sulung dari dua bersaudara buah hati dari pasangan Wahyudi dan Ani Kurnia, seorang adik laki-laki yang bernama M.Ziad Pahlevi. Saat ini sedang menimba ilmu di SMPN 3 Ketapang Kelas VIII Billingual. Selain menulis cerpen juga suka menggambar dan mendesain. Cita-citanya ingin menjadi seorang Desainer ternama. Alamat sekarang di Jalan Gatot Subroto, Gang Hadi No.A6, Payak Kumang, Kota Ketapang (Kalimantan Barat).