Kamis, 14 Februari 2013

CERPEN


SIDANG PARA BULAN


Kupacu laju Vespa bututku menuju ke arah desa Sungai Awan Kanan. Terik mentari siang ini terasa begitu menyengat. Tak kuhiraukan. Yang penting sekarang aku harus sampai ke tujuan, on time di sana. Ini adalah hari terpenting buatku. Hari ini aku diundang   oleh sahabatku,  Raja Agung  Surya Jagad Semesta. Pemimpin Kerajaan Tata Surya. Pemilik terang dan panas di seluruh jagad ini. Aku diminta hadir sebagai penasehat pribadi. Kedengarannya aneh untuk logika orang awam, tapi tidak untukku. Ini sesuatu yang nyata dan gaib di mata terawangku.
Bantuan apa yang diinginkannya pun aku belum tahu pasti. Menurut rumor yang kudapat dari  dalam istana,  sang Raja merasa gusar dengan selentingan yang beredar saat ini, adanya gerakan makar dari para bulan yang bernaung di bumi. Apa tujuan makar itu sendiri belumlah jelas. Menurut sumber tadi lagi, sebetulnya baru wacana saja, kebenarannya belumlah absah. Gerakan  tersebut hanya bersifat  sporadis. Tidak terstruktur dan terencana, dalam bentuk perang atau pemberontakan. Untuk lebih sahihnya Raja akan mengadakan sidang darurat, dengan agenda khusus;  menyidang para bulan.  Konsekwensi dari demokrasi peradaban.

Tak terasa  aku sudah tiba di Dusun Darussalam, tempat di mana rencana penjemputan  akan berlangsung. Tepatnya di Pantai Air Mati, sebuah pantai yang banyak menyimpan misteri. Jarak dari jalan besar tidaklah jauh. Untuk mencapai pantai dibutuhkan waktu limabelas menit. Jalannya tidak semulus yang kita kira. Sebagian jalan beraspal kasar bercampur kerikil tajam. Banyak lobang menganga. Akibat sering tergerus hujan dan air pasang. Benar-benar tak terawat.  Sebagian jalan ke arah dalam berpasir. Bagi yang tak biasa mengendarai motor di atas pasir pasti jadi kendala. Paling tidak masih dapat dilalui kendaraan bermotor.

Sepanjang jalan menuju pantai  banyak ditumbuhi pohon Akasia dan pohon kayu Ubar. Teduh. Apalagi di saat sang Raja Surya sedang murka. Sampai juga aku  di pantai yang indah dan penuh misteri ini. Menjejakkan langkah di atas hamparan pasir bisu. Sepi. Tak ada pengunjung. Dari kejauhan hanya tampak beberapa orang  sedang memasang jaring di bagian laut yang dangkal untuk menangkap ikan.

Segera kucari tempat  untuk melepas penat. Hitung-hitung, sambil menunggu jemputan dari utusan kerajaan.  Kurebahkan badan di bawah pohon Ubar yang kokoh berdiri di bibir pantai. Belai angin tak kurasa nyaman, lantaran ditebas  amarah matahari. Untung saja pepohonan di sekitar sini ramah. Menyejukkan suhu badan yang labil. Janjinya pukul 15.00 aku akan dijemput dan dibawa ke kerajaan oleh Hulubalang Bianglala, jembatan abadi yang hanya bisa muncul kalau langit mencurahkan butir-butir hujan ke muka bumi ini. Jangankan turun hujan, panas semakin menjadi. Berasa hingga ke tubuhku.

Belum berapa lama aku memejamkan mata. Samar-samar terdengar teriakan dari arah laut, “ Cepat naik ke darat, jang ! Hujan panas. Nanti kita kesambatan.”

Akhirnya hujan turun juga. Hujan panas. Menurut kebiasaan orang tua zaman dulu, tak baik jika berhujan panas, bisa menjadi penyakit. Menurut mereka lagi, setiap hujan panas pasti disertai hadirnya setan-iblis. Maka muncullah istilah kesambatan, yang mempunyai makna; ditegur mahluk halus. Logikanya saat ini, karena terjadi perubahan suhu yang begitu cepat, panas disertai hujan, tubuh kita belum siap merespon kondisi. Biasanya orang akan demam. Ya - sudahlah, itu kepercayaan yang terlanjur mengakar pada sebagian penduduk dusun sini, tidak patut untuk dipermasalahkan. Biarkan saja hujan turun, berarti jemputan akan segera datang. Betul. Tak lama berselang, dari kejauhan bianglala muncul membias dengan tujuh rupa warna. Membentuk lengkungan panjang bagai jembatan. Dengan senyum tipis ia menyapaku, “ Naiklah ke hamparan aneka warnaku, Tuan Penasehat,”

Tanpa berlama-lama aku bergegas menaiki titian bertangga tujuh warna itu. Petualangan sensaional dimulai. Perjalanan menuju Kerajaan Tata Surya. Kunjungan spektakuler di abad ini, menghadiri sidang para bulan.

Tak dapat kulukiskan betapa indahnya pemandangan dari atas sini. Luar biasa. Maha karya megah Sang Pencipta yang tak ada bandingannya. Takjub dan tersugesti keindahan semesta, aku tak menghiraukan perjalanan ini. Dan tiba-tiba saja aku sudah berada di sebuah tempat yang amat asing. Jujur, aku belum pernah melihat tempat yang seperti ini. Luar biasa. Indah ? Tidak juga. Tandus tanpa pepohonan. Di sekelilingnya terjaga oleh semburan cahaya kemerah-merahan. Melingkar membentuk bulatan. Itu sepertinya api keabadian milik Sang Raja. Harusnya tak sebuah benda atau mahluk hidup dapat bertahan pada kondisi seperti ini. Pasti hancur-lebur, karena suhu di sini 150 juta derajad Celcius. Tapi tidak berlaku bagiku. Entah, tubuhku seperti dilindungi oleh sesuatu yang tahan panas, sekali pun panas matahari. Inilah istimewanya menjadi tamu khusus di kerajaan ini. Keamanan  benar-benar menjadi suatu yang penting.

@@@

Saat ini aku sudah berada dalam ruang sidang, sebuah ruangan bergaya dan bercorak ala kuil kuno dalam kisah kerajaan. Artefak khas  kerajaan dari dinasti-dinasti zaman Hindu yang berada di Nusantara. Layaknya seorang raja, Raja Agung Surya Jagad Semesta duduk dengan gagah di singgasana berlapis logam kekuningan. Warna yang merupakan simbol keabadiannya. Di sisinya, duduk dengan anggun sang permaisuri Ratu Kartika Terang Angkasa. Dua kepribadian yang saling menyeimbangkan alam, siang – malam.

Permadani beludru berwarna merah keemasan terhampar di depan singgasana, menambah garang suasana.  Di kiri – kanan Raja, duduk berderet para wakil dari  Dewan Negara Kerajaan yang beranggotakan seluruh planet beserta para orbitnya.  Mereka diwakili oleh Kesatria, gelar untuk pemimpin planet, sesuai dengan nama planet bersangkutan; Kesatria Mars mewakili planet Mars dan berlaku bagi planet-planet lainnya. Selain itu hadir juga ke duabelas bulan yang bernaung di bumi, Januari hingga Desember, ditambah dengan duabelas zodiaknya, Capricorn hingga Sagitarius.

“ Paduka Yang Mulia, semua undangan telah hadir. Mohon petunjuk,” kata Mahapatih Korona memecahkan keheningan.

Dengan tatapan tajam. Tegas - bersahaja. Ia mulai angkat bicara, “ Selamat datang di Istanaku ! Sengaja  aku memanggil kalian semua ke persidangan khusus hari ini, aku ingin mengetahui kebenaran berita yang selama ini telah mengusik hatiku. Aku ingin mendengar langsung dari para bulan yang bernaung di bumi.”

Semua terdiam. Saling pandang. Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan hitam, mendekat kearah raja, dan membisikinya.  Selang berapa  saat , bayangan misterius itu bergegas pergi meninggalkan sidang. Sepertinya ia terburu-buru. Hilang secepat angin. Tanpa bekas. Tampaknya ia sangat penting bagi raja. Barangkali ia telik sandi kerajaan. Ini hanya dugaanku saja.

“ Menurut laporan yang kuperoleh, ada konspirasi antar oknum bulan dengan salah satu dari kalian yang hadir disini.  Januari ! Apa  benar kalian merencanakan untuk merubah konstitusi, merubah jumlah bulan dalam setahun menjadi 24 bulan ?” tanya Raja Surya. Suaranya yang besar serak membahana di segenap ruang sidang. Panas. Murkanya mulai memburat.

“ Maaf, Tuanku. Saya tidak tahu soal ini. Saya pernah mendengar selentingan tersebut. Tapi sungguh, tak ada niatan sekecil apa pun  untuk melakukan hal seburuk itu. Entahlah kalau ada diantara kawa-kawan lain yang menginginkannya,” jelas Januari.

“ Tuanku, kalau boleh hamba tegaskan. Kami dari 12 bulan yang ada tak pernah berencana untuk membuat suatu apa pun yang sifatnya merusak sistem kami sendiri. Kami tahu, ini sudah takdir  kami yang bernaung di bumi hanya diberi usia 365 hari dalam setahun. Tapi kalau memang ada di  antara kami yang menginginkan demikian, kami berharap berikan hukuman yang pantas,” ujar Agustus.

Raja  diam sejenak. Tak bergeming. Matanya melotot. Menatap tajam pada semua hadirin. Dihela napas dalam-dalam, lantas ia melanjutkan, “ Aku punya bukti dan saksi yang kuat, salah satu di antara kalian ada yang terlibat. Ia  sudah memprovokasi ke 12 zodiak untuk  merubah takdir bulan. Scorpio ! Beritahu siapa yang telah mengajak dan menghasut kalian. Merubah konstitusi berarti menentangku !”

“ Ya, Tuanku ! Kamilah yang merencanakan semua ini. Tak ada yang menyuruh dan menunggangi kami. Kami ingin sejajar dengan para bulan yang sah dan diakui dunia.     Apa bedanya kami dengan mereka ? Dengan segala hormat, anda seorang pemimpin yang bijak, sudah sepantasnya di zaman demokrasi ini anda memikirkan hak serta nasib kami. Tanpa kehadiran kami, manusia di bumi tidak akan pernah tahu tentang karakter dan sifat mereka. Pertimbangkan ini, Tuanku !” ucap Scorpio berapi-api.
Raja Surya bukanlah seorang pemimpin yang bodoh. Ia tidak begitu saja percaya dengan keterangan yang disampaikan oleh bawahannya. Ia hanya sekedar memancing saja, ia ingin tahu lebih dalam lagi siapa dalang sesungguhnya.

“ Kesatria Bumi ! Bagaimana menurutmu ?  Kau sebagai pemimpin di duniamu, harusnya kau bisa mendeteksi semua ini. Tidak perlu sampai ada sidang seperti ini. Apa saja yang kau kerjakan, pasti tak pernah becus. Jadi pemimpin jangan hanya berdiam diri. Jangan plin-plan. Jangan lemah. Lihat,  akibat kecerobohanmu ! Kau biarkan penghuni dunia membabat seluruh hutanmu hingga gundul. Bencana silih berganti melanda negerimu. Kau biarkan kebobrokan moral merusak peradaban. Kau suburkan benih kekacauan dan kemungkaran merajalela. Jangankan mengayomi mereka, kau malah dipecundangi para manusia,” kata Raja Surya gusar.

Bumi hanya tertunduk diam. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Malu. Aku agak tersinggung dengan kata-kata Raja Surya yang terakhir tadi. Tidak semua manusia begitu, menurutku. Hingga detik ini aku sebagai penasehatnya belum dimintai pendapat. Aneh. Tidak biasa-biasanya ia bersikap seperti ini padaku. Aku mulai berburuk sangka. Apa ini hanya perasaanku saja. Atau ada hal lain di balik perkara ini. Ya – semoga dugaanku meleset.

“ Sahabatku, Penasehat yang bijak ! Apa pendapatmu tentang perkara ini ?” tiba-tiba ia berkata. Membuyarkan lamunanku. Ternyata dugaanku memang meleset.

“ Lumrah, Tuanku. Ini konsekwensinya anda membuka kran demokrasi di kerajaan ini. Keinginan mereka tidak berlebihan menurut saya, karena ini masih merupakan wacana, masih dalam rel yang benar. Jadi atau tidak jadi bukan soal bagi mereka. Paling penting buat mereka, aspirasi sudah dikemukakan. Perlu diingat, kami di bumi sudah diberi keleluasaan untuk beraktivitas selama 365 hari dalam setahun. Itu sudah permanen, tidak bisa diganggu gugat. Saya yakin ini semata bukan sekedar kemauan mereka para bulan beserta zodiak untuk duduk sama rata. Ini bukan sebuah kelaziman, tapi sebuah kezaliman moral. Menurut  saya, ada satu hal yang ‘mereka’ inginkan lebih dari ini. Merekalah biang dari kekacauan ini. Silahkan cernai kata-kata saya ini,” kataku lugas. Entah dari mana aku bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Lidah ini serasa dituntun oleh sebuah kekuatan magis yang tak kuketahui dari mana datangnya.

“ Tuanku, setelah kami selidiki. Ternyata ini gawenya Februari, ia sengaja menghasut para zodiak untuk merubah sistem mereka. Dengan dukungan dan bergabungnya para zodiak, ia berharap akan menjadi pimpinan bulan di bumi menggeser Januari. Ia terobsesi untuk memiliki waktu penuh. Selama ini waktunya paling pendek diantara  yang lain. Saya punya sumber yang dapat dipercaya !” ungkap  Korona.

Belum sempat Februari membela diri, tiba-tiba muncul seseorang menuju persidangan. Pluto. Ya – mantan Kesatria yang telah dibuang dari tatanan kerajaan muncul secara mengejutkan. Para kesatria lain bangkit dari duduknya dan bersiap menghunuskan senjata.

“ Tenang semua ! Sarungkan kembali senjata kalian !” perintah Sang Raja meredam para bawahannya.

“ Tapi…Tuanku …!” kata Kesatria Uranus emosi.

“ Diam ! Biarkan ia masuk. Aku yang memintanya kemari. Ia punya sesuatu yang bisa memecahkan misteri ini. Tunggu apa lagi Pluto, katakan apa yang kau ketahui.”

“ Baiklah. Apa yang dikatakan Korona benar. Februari adalah dalang dari kekisruhan ini. Tapi perannya hanya sebatas bidak saja. Masih ada pemeran utamanya. Selama ini anda telah berbuat kekeliruan, Tuanku. Tanpa sadar anda telah memelihara penghianat dan mempercayai segala perkataannya. Ia sudah berhasil memperdayai dan memecah belah tatanan yang anda pimpin. Ha…ha…ha…”
" Siapa yang kau maksud, Pluto ? Katakan saja ! Aku tak segan-segan untuk menangkap dan menghukumnya, sekali pun itu orang kepercayaanku !,” ujar Raja Surya marah. Wajahnya memerah. Panas. Seisi ruangan berubah panas. Semua saling berpandangan. Saling mencurigai. Perkataan Pluto bagai bom waktu bagi mereka. Memicu adrenalin. Suasana runyam tak menentu. Sedang Pluto tersenyum kecil, senyum kemenangan.

Aku merasa ada yang tak beres. Bukan pada Pluto. Atau pada mereka yang berada di ruang sidang ini. Ada yang tak beres dalam diriku. Ada yang coba memisahkan diri dari ragaku. Berlawanan rasa, hitam – putih, aku tak kuasa membendung pergumulan antara keduanya. Sungguh menyakitkan.

Tanpa kuduga, Pluto berkata sambil menudingkan telunjuknya ke arahku, “ Ia biang keladinya ! Ia yang merencanakan semua ini. Ia ingin memperpanjang usianya dengan cara menambahkan bulan menjadi 24. Ia takut mati. Ia merasa belum mampu menghapus semua dosa-dosanya. Ia ingin merubah kodrat manusia. Ha…ha…kalian semua sudah tertipu..ha..ha.Tawanya semakin keras dan memekakkan telinga.

Dan…..wuusss…tiba-tiba Pluto bersalin rupa menjadi sekelebat bayangan hitam.  Bayangan yang tadi menghampiri raja. Lebih menyakitkan, bayangan misterius itu adalah bayanganku sendiri. Bayangan yang tak mau tertinggal oleh tuannya. Ia ingin aku yang menjadi bayangannya. Rupanya sejak awal raja sudah tahu , kalau aku pelakunya.  Dan ini dimanfaatkan oleh bayanganku untuk menghasut raja. Berhasil. Hanya menunggu waktu. Pantas saja kalau ia murka besar. Dengan penuh kebencian ia menarik pedang keramatnya, lantas menghunuskan besi tajam itu ke tubuhku. Dan tepat bersarang di dadaku.  Darah segar bermuncratan ke segala penjuru. Aku limbung. Nafasku tinggal satu-satu. Aku melayang. Tak ingat apa-apa lagi.“ Bruuaakkkk……” tanpa sadar aku jatuh di atas pasir putih. Di tempat semula aku menantikan jemputan. Di Pantai Air Mati. Aku coba bangkit. Sempoyongan.

Baru beberapa saat   tersadar, aku dikejutkan oleh hingar-bingarnya suara manusia. Sontak pandanganku tertuju tepat di bawah pohon kayu Ubar, tempat di mana aku merebahkan badanku. Orang ramai menyemut. Aku  mendekati,  dan coba mencari tahu.

“ Pak...pak...! Ada apa ya ?” ujarku sambil menepuk pundak seorang laki-laki tua. Ia tak merespon panggilanku. Berulang-ulang kulakukan. Sama. Tetap tak ada jawaban. Ya – Allah, rupanya mereka semua tak bisa melihat dan mendengarkan perkataanku. Apakah aku sudah mati ? Apakah yang sedang dikerumuni mereka itu jasadku.

“ Kasihan ya pemuda ini. Ia meninggal dunia, kesambatan hujan panas rupanya !” kata laki-laki tua tadi. Yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Iba terhadap nasib jasadku. Dan akhirnya atas inisiatif warga jasadku dibawa menjauh dari sini. Entah kemana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Diam meratapi nasibku yang malang. Tinggal dalam sepi bersama desir pantai.  Aku dikhianati oleh bayanganku sendiri. Sungguh menyakitkan.*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar