LOBANG-LOBANG MENGANGA
Menapaki
segala kemuraman suasana sepanjang hingar bingar perjalanan hanya tersisa
serupan sekampel kopi pahit. Mata tak kuasa menahan laju kantuk yang didera
lobang-lobang menganga sepanjang ruas jalanan. Sesekali derit klakson mobil
menghardik para pejalan kaki yang melintas di depan mata semaunya. Serupan
terakhir purna sudah, asa pun mulai mengawang merindu tempat berlabuh nantinya.
Tiada kata berseloroh di dalam taksi hanya kepulan asap rokok dan sesekali
dentuman house musik yang tidak begitu nyaring, sesekali terdengar tawa dan
gunjingan via handphone dari seorang gadis. O – perjalanan semakin memuakkan,
sepanjang jalan tak lekang dari lobang-lobang menganga yang sesekali menyantap
mobil-mobil tangki, mereka terjerembab karena ulah mereka sendiri. Menapaki
jalanan dengan melebihi kapasitas yang ada
Serpihan-serpihan
dedaunan gugur melayang-layang mencari landasan akhirnya. Antara jatuh ke
jalanan mulus, lobang-lobang menganga, aliran sungai keruh, atau akhirnya
terlindas deru mobil-mobil penindas jalanan. Jalanan kian seronok tak tentu
pasal. Dari tahun ke tahun tak ada yang bertanggung jawab. Jalanan ini milik
siapa ? Jalanan ini bukan apa-apa. Jalanan ini terbangun karena keringat kita,
keringan masyarakat yang tak pernah mendapatkan perhatian. Jalanan yang setia
menemani perjalanan kelam. O – patutlah mereka menjerit-jerit setiap saat,
diperkosa dan dilindas zaman dan keangkuhan mulut-mulut besar, topeng-topeng
berdasi. Sementara nasib-nasib rakyat jelata hanya tinggal bayangan menjalani
perjalanan yang penuh lobang-lobang menganga
Detik
kian merambah waktu menembus rintik hujan yang mulai mengandung. Mata kian
rentan digoda angin-angin. Langit mendung menghitam sengaja hendak mengunci
perjalanan semu ini. Semakin mendekat jarak lobang-lobang menganga semakin
ramah menadah rinai hujan yang semakin keras bergulir ke muka bumi.
Dan...sepasang tangan mungil mendekap kesejukan di antara antrean mobil-mobil
pada sebuah meting, lobang-lobang
menganga menanti mereka dengan senyum tak bermakna. Mereka berlomba untuk
saling mendahului memutus janji yang tak tertulis.
Lobang-lobang
semakin menganga mendekati istirah terakhir. Dermaga beku itu telah menghampar
di depan kenyataan yang ada. Kelabu mengurai warna-warni perjalanan panjang
yang kulewati. Tak ada kata haru, linangan air mata rimba, desahan kebun-kebun
karet, juga anggukan sawit-sawit sepanjang mata memandang. Tiba di kotamu aku
terdiam tanpa basa. Mematung memandang dataran gersang. Hilang hijau rimba asal
beralih menjadi bangunan-bangunan megah. Diamku mematung bukan berarti aku
terdecak kagum, trenyuh melihat kenyataan yang ada. Tak kutemui ruam lagi, tak
kudapati payak-payak. Sekian waktu menjemput petang mengajak nyali untuk
mengembara di panorama kotamu. Yang dulunya hening saat azan Maghrib menggema
menuju khusyuk hati berubah total menjadi hingar bingar malam, dentuman musik
di cafe-cafe sepanjang jalan. Deretan muda mudi memajang diri ngobrol ngalor
ngidul tak tentu pasal. O – wajah kotaku lebih parah dari lobang-lobang
menganga. Salah siapa ? Biarlah waktu yang mengukur semuanya. Aku hanya diam
tanpa kata. Lobang-lobang kian menganga, bukan hanya pada jalanan tapi juga
pada moral, kotamu pun bisu tak bersuara lagi.
Bumi
Ale-Ale, 1 Februari 2013
SEPERTIGA HATI
Kau iris hati hingga kepingan itu kau tanamkan dalam
tidur abadi yang terukur jarak. Separuh kan kusimpan dalam beningnya matamu,
mata yang menyimpan rahasia kepedihan hidup. Memancar gelombang asa. Berpendar
ke segenap hati menuntun imajiku untuk memberikan seberkas cahaya pengasihan
yang seyogianya dapat mencairkan kubah lava dalam kandungan ego yang kian
memuncak seiring tenggelamnya purnama di ambang fajar. O – pilu hati nafas
berdebur bagai ombak hendak memecah karang, biarlah separuh hati itu takkan
kudakwa di pengadilan petang nanti, biarlah sepertiga hatimu saja yang akan
kusimpan jauh di relung tak berbatas menjemput mimpi panjang yang menyediakan
pelabuhan terakhir tempatmu bersandar.
Bumi Ale-Ale, 2 Februari 2013
DERMAGA
HATI
Pagi yang seharusnya ramah dan sejuk sembari menunggu
naiknya sinar mentari, terbius janji rinai hujan. Perlahan butiran itu menetes
membasahi tanah menapak sepanjang jalan yang kutempuh semakin jauh semakin
menumpuk butiran air itu menempel kuyup di tubuh. Kupacu hasrat hingga bayangan
tertinggal bersama hembusan angin nuju dermaga yang kita sepakati. Hingar
bingar hari pun tak lagi kupedulikan, niatku hanyalah ingin cepat-cepat
menggapai aroma wangi rambutmu yang menyibakkan asa pada kurun yang nyaris kita
abaikan.
Dermaga hati sunyi senyap. Lengang. Hanya suara-suara
degup jantung menyeruak dari ke dua bilik yang terendam jingga rindu. Wajahmu pasi. Gugup menyambut
denyut nadiku yang merambahi segenap molekul hatimu. Kuracik anggur maron
hingga menjelma secawan kenikmatan yang tiada rasa lagi, kusulang dalam katupan
rapat merah bibirmu. Sensai indah melayang-layang di angan, hanya sekedar
lewati kita saja tak hendak menjamah debar-debar yang kita semai. Syukurlah
jarak masih menyelamatkan wajah-wajah lugu dari kerdipan topeng kemunafikan. O –
cakrawala tegar menggugah percikan rasa terdalam mendongak sang mentari merah
di lintasa mega berarak. Aku, kau : kita tak ingin pulang sebelum genta dunia
bertalu menyapkaikan waktu yang kita yakini.
Dermaga hati kini tinggal kenangan. Berlalu telah
meleweti masa-masa indah. Penuh cobaan dan godaan. Dermaga hati tanda yang tak
mungkin kau, aku, kita lupakan dalam
sejarah peradaban asmara. Dermaga hati melabuh di belahan mana saja di mana
nafas saling berkejaran. Langit luas sekali pun akan menyimpan sebagai saksi
hidup yang tak lekang dari rotasi dunia. Kupersembahkan dalam pigura waktu,
agar perjalanan rindu tetap melabuh di dermaga hati selamanya hingga kembali ke
noktah keabadian.
Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013
BULAN
KOSONG
Bulan kosong merayau hingga fajar menyembul dari ufuk
Timur. Tatapnya sayu bak kecanduan opium. Dipicingkan kilaunya jauh menembus
anak-anak pulau lewati segara. Pun dia masih tak puas, lantaran gumpalan mega
dan halimun pekat sengaja halangi pandang. Saat itupun gulita. Tak satu mahluk
enggan merangkak keluar dari peraduan hingga tiba waktunya adzan Shubuh
menggema ke seantero peradaban barulah lega hatinya.
Bulan kosong menghilang ditelan waktu. Bayangannya
terbelenggu terik matahari. Beku terpaku kendali putaran sang waktu. Menanti
dan menanti setiap saat hingga senja melarut malam. Ternyata di setiap
kegelapan malam tetap tak berdaya dipecundangi tarian anak-anak malam dan
nyanyian sumbang gadis-gadis pemuja materi. Kosong. Wajah itu kosong diam
seribu basa terpaku keadaan, hanya bisa membelalak tanpa kata.
Bulan kosong tinggal kenangan tanpa makna. Kosong dan
selalu kosong. Terhempas oleh peradaban malamnya sendiri. Tak ada kawan yang
mau mengerti rasa hatinya. Tercabik-cabik. Terkoyak-koyak. Perjalanan hidupnya
tak semulus yang diduga. Angan tinggal angin belaka. Sesal tiada guna. O –
ternyata sangkakala tlah segera menghampiri denyutnya melalui lafaz yang
merayap. Merayau kembali nafasnya dalam sentuhan sang pujangga melahirkan
syair-syair keabadian.
Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013
BAIT
INI KUCIPTA UNTUKMU
Ya – sengaja aku merapalkan kata-kata sakral itu hanya
untuk menyulang kesedihan semata. Tanpa sedu sedan tegar memandang percakapan-percakapan semu di sebuah acara televisi. Amarah mulai
berdetak mengikuti arah pembicaraan, yang hanya membuat orang bosan. Anekdot
yang selalu mencekoki pikiran rakyat kecil. Siapa bilang wajah bersahaja itu
bersih ! Hanya kedok pemuas tahta – harta –wanita. Semakin larut perbincangan
tolol itu semakin kita dibuat bodoh.
Ah – biarlah kusantap hidangan itu hanya untuk
mengenyangkan angan saja. Tanpa sebab akibat lantaran kita selalu menjadi
penonton bisu saja dalam sebuah panggung kemunafikan. Tinggal menanti
kesempatan dalam kesempitan, hanya ini yang bisa kita nanti. Angan, ingin, dan
hasrat sudah tak mungkin untuk merubah janji-janji. Kita memang selalu
terkesampingkan, tapi kita bukan pecundang ! Kita adalah pemenang yang tak
bertitel beku dilahap kabut keangkuhan dari para pecundang.
Oo – sengaja bait ini kucipta untukmu agar nasib
generasiku kelak tak seperti yang sudah-sudah, buram termakan muslihat. Sengaja
bait ini kucipta untukmu agar dihapal oleh janin-janin masa depan untuk
membasmi racun-racun yang merebak hingga ke syaraf nurani.
Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013
KONSPIRASI
Adalah kita yang terbiasa mendengarkan saja dan tanpa
menyaksikan kelenaan wajah-wajah murung menggapai secuil keadilan, padahal keadilam
memang sudah digariskan atas perbuatan. Kemana arah angin berhembus membelai syahwat
melewati batas batas kemampuan yang sudah ditakdirkan. Sepanjang kepekaan
nurani yang tak terasah sentuhan rintih-rintih rakyat jelata, atau nyanmyian
sumbang anak-anak tak berbapak, atau senyuman menyungging penuh rona merah
maron milik wanita-wanita malam, bahkan sekali pun rengekan janin-janin yang
tak berdosa di bilangan kali-kali kecil; merekan akan marah dan menyerapah
hingga jasad menabur abu, bukan kembali ke tanah.
Adalah kamu yang terbiasa melecehkan kata-kata menawan di
atas duka lara menguliti kisi-kisi peradaban, mengubah perlawanan menjadi
sebuah kesepakatan kelam, tanpa menghiraukan makna perjuanagan tangan-tangan
berlepotan ketakberdayaan. Mahalnya perjuangan itu tak sebanding dengan mahar
yang telah dihamparkan pada bidar-bidar permufakatan dua kutub yang saling mengumbar
keangkuhan.
Adalah selalu mengutamakan kesepakatan di atas dera angin
malam mengungkung angan-angan suci menjadikan warna hari semakin tak mengental,
buram membias hingga mengakar pada mozaik-mozaik belantara. Akankah hembus
angin akan tetap menuju kesepakatan semula, atau bahkan akan limbung menjadi
sebuah perlawanan tanpa basa-basi menerjang padang ilalang dalam hitungan
detik. O – demi beribu jasad-jasad yang tak tenang akan kurajamkan pedang membisa
untuk meleburkan mata hati para perompak berwajah lugu
Bumi Ale-Ale, 5 Februari 2013
PERJALANAN
MEMBURU BAYANG, I
Rintik hujan selalu saja menemani keberangkatan fajar
hingga kuyup tak terhindarkan. Matahari hilang tak menyembul sembunyi di balik
bukit peraduan. Kotamu telah terlewai tanpa kerdip lurus memandang sepanjang
aspal mengulur jalanan basah. Aku rindu akan malam kotamu, tapi sayang hasrat
tak bisa terpenuhi, aku butuh senja di kota lain. Hasratku akan melabuh di
malam kota lain tempat perjuangan akan
dimulai. Tempat di mana bayangan masa lalu bersembunyi dari kebenaran hakiki.
Akan kumulai perburuan ini tanpa rasa. Aku memang tak ingin menggunakan rasa
lantaran perburuan ini dimulai tanpa memperdulikan rasa.
Bumi Ale-Ale, 6 Februari 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar