Senin, 11 Februari 2013

PROSA : WYAZ IBN SINENTANG


LOBANG-LOBANG MENGANGA


Menapaki segala kemuraman suasana sepanjang hingar bingar perjalanan hanya tersisa serupan sekampel kopi pahit. Mata tak kuasa menahan laju kantuk yang didera lobang-lobang menganga sepanjang ruas jalanan. Sesekali derit klakson mobil menghardik para pejalan kaki yang melintas di depan mata semaunya. Serupan terakhir purna sudah, asa pun mulai mengawang merindu tempat berlabuh nantinya. Tiada kata berseloroh di dalam taksi hanya kepulan asap rokok dan sesekali dentuman house musik yang tidak begitu nyaring, sesekali terdengar tawa dan gunjingan via handphone dari seorang gadis. O – perjalanan semakin memuakkan, sepanjang jalan tak lekang dari lobang-lobang menganga yang sesekali menyantap mobil-mobil tangki, mereka terjerembab karena ulah mereka sendiri. Menapaki jalanan dengan melebihi kapasitas yang ada

Serpihan-serpihan dedaunan gugur melayang-layang mencari landasan akhirnya. Antara jatuh ke jalanan mulus, lobang-lobang menganga, aliran sungai keruh, atau akhirnya terlindas deru mobil-mobil penindas jalanan. Jalanan kian seronok tak tentu pasal. Dari tahun ke tahun tak ada yang bertanggung jawab. Jalanan ini milik siapa ? Jalanan ini bukan apa-apa. Jalanan ini terbangun karena keringat kita, keringan masyarakat yang tak pernah mendapatkan perhatian. Jalanan yang setia menemani perjalanan kelam. O – patutlah mereka menjerit-jerit setiap saat, diperkosa dan dilindas zaman dan keangkuhan mulut-mulut besar, topeng-topeng berdasi. Sementara nasib-nasib rakyat jelata hanya tinggal bayangan menjalani perjalanan yang penuh lobang-lobang menganga

Detik kian merambah waktu menembus rintik hujan yang mulai mengandung. Mata kian rentan digoda angin-angin. Langit mendung menghitam sengaja hendak mengunci perjalanan semu ini. Semakin mendekat jarak lobang-lobang menganga semakin ramah menadah rinai hujan yang semakin keras bergulir ke muka bumi. Dan...sepasang tangan mungil mendekap kesejukan di antara antrean mobil-mobil pada sebuah meting, lobang-lobang menganga menanti mereka dengan senyum tak bermakna. Mereka berlomba untuk saling mendahului memutus janji yang tak tertulis.

Lobang-lobang semakin menganga mendekati istirah terakhir. Dermaga beku itu telah menghampar di depan kenyataan yang ada. Kelabu mengurai warna-warni perjalanan panjang yang kulewati. Tak ada kata haru, linangan air mata rimba, desahan kebun-kebun karet, juga anggukan sawit-sawit sepanjang mata memandang. Tiba di kotamu aku terdiam tanpa basa. Mematung memandang dataran gersang. Hilang hijau rimba asal beralih menjadi bangunan-bangunan megah. Diamku mematung bukan berarti aku terdecak kagum, trenyuh melihat kenyataan yang ada. Tak kutemui ruam lagi, tak kudapati payak-payak. Sekian waktu menjemput petang mengajak nyali untuk mengembara di panorama kotamu. Yang dulunya hening saat azan Maghrib menggema menuju khusyuk hati berubah total menjadi hingar bingar malam, dentuman musik di cafe-cafe sepanjang jalan. Deretan muda mudi memajang diri ngobrol ngalor ngidul tak tentu pasal. O – wajah kotaku lebih parah dari lobang-lobang menganga. Salah siapa ? Biarlah waktu yang mengukur semuanya. Aku hanya diam tanpa kata. Lobang-lobang kian menganga, bukan hanya pada jalanan tapi juga pada moral, kotamu pun bisu tak bersuara lagi.

Bumi Ale-Ale, 1 Februari 2013




SEPERTIGA HATI


Kau iris hati hingga kepingan itu kau tanamkan dalam tidur abadi yang terukur jarak. Separuh kan kusimpan dalam beningnya matamu, mata yang menyimpan rahasia kepedihan hidup. Memancar gelombang asa. Berpendar ke segenap hati menuntun imajiku untuk memberikan seberkas cahaya pengasihan yang seyogianya dapat mencairkan kubah lava dalam kandungan ego yang kian memuncak seiring tenggelamnya purnama di ambang fajar. O – pilu hati nafas berdebur bagai ombak hendak memecah karang, biarlah separuh hati itu takkan kudakwa di pengadilan petang nanti, biarlah sepertiga hatimu saja yang akan kusimpan jauh di relung tak berbatas menjemput mimpi panjang yang menyediakan pelabuhan terakhir tempatmu bersandar.

Bumi Ale-Ale, 2 Februari 2013




DERMAGA HATI


Pagi yang seharusnya ramah dan sejuk sembari menunggu naiknya sinar mentari, terbius janji rinai hujan. Perlahan butiran itu menetes membasahi tanah menapak sepanjang jalan yang kutempuh semakin jauh semakin menumpuk butiran air itu menempel kuyup di tubuh. Kupacu hasrat hingga bayangan tertinggal bersama hembusan angin nuju dermaga yang kita sepakati. Hingar bingar hari pun tak lagi kupedulikan, niatku hanyalah ingin cepat-cepat menggapai aroma wangi rambutmu yang menyibakkan asa pada kurun yang nyaris kita abaikan.

Dermaga hati sunyi senyap. Lengang. Hanya suara-suara degup jantung menyeruak dari ke dua bilik yang terendam  jingga rindu. Wajahmu pasi. Gugup menyambut denyut nadiku yang merambahi segenap molekul hatimu. Kuracik anggur maron hingga menjelma secawan kenikmatan yang tiada rasa lagi, kusulang dalam katupan rapat merah bibirmu. Sensai indah melayang-layang di angan, hanya sekedar lewati kita saja tak hendak menjamah debar-debar yang kita semai. Syukurlah jarak masih menyelamatkan wajah-wajah lugu dari kerdipan topeng kemunafikan. O – cakrawala tegar menggugah percikan rasa terdalam mendongak sang mentari merah di lintasa mega berarak. Aku, kau : kita tak ingin pulang sebelum genta dunia bertalu menyapkaikan waktu yang kita yakini.

Dermaga hati kini tinggal kenangan. Berlalu telah meleweti masa-masa indah. Penuh cobaan dan godaan. Dermaga hati tanda yang tak mungkin kau, aku,  kita lupakan dalam sejarah peradaban asmara. Dermaga hati melabuh di belahan mana saja di mana nafas saling berkejaran. Langit luas sekali pun akan menyimpan sebagai saksi hidup yang tak lekang dari rotasi dunia. Kupersembahkan dalam pigura waktu, agar perjalanan rindu tetap melabuh di dermaga hati selamanya hingga kembali ke noktah keabadian.

Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013



BULAN KOSONG


Bulan kosong merayau hingga fajar menyembul dari ufuk Timur. Tatapnya sayu bak kecanduan opium. Dipicingkan kilaunya jauh menembus anak-anak pulau lewati segara. Pun dia masih tak puas, lantaran gumpalan mega dan halimun pekat sengaja halangi pandang. Saat itupun gulita. Tak satu mahluk enggan merangkak keluar dari peraduan hingga tiba waktunya adzan Shubuh menggema ke seantero peradaban barulah lega hatinya.

Bulan kosong menghilang ditelan waktu. Bayangannya terbelenggu terik matahari. Beku terpaku kendali putaran sang waktu. Menanti dan menanti setiap saat hingga senja melarut malam. Ternyata di setiap kegelapan malam tetap tak berdaya dipecundangi tarian anak-anak malam dan nyanyian sumbang gadis-gadis pemuja materi. Kosong. Wajah itu kosong diam seribu basa terpaku keadaan, hanya bisa membelalak tanpa kata.

Bulan kosong tinggal kenangan tanpa makna. Kosong dan selalu kosong. Terhempas oleh peradaban malamnya sendiri. Tak ada kawan yang mau mengerti rasa hatinya. Tercabik-cabik. Terkoyak-koyak. Perjalanan hidupnya tak semulus yang diduga. Angan tinggal angin belaka. Sesal tiada guna. O – ternyata sangkakala tlah segera menghampiri denyutnya melalui lafaz yang merayap. Merayau kembali nafasnya dalam sentuhan sang pujangga melahirkan syair-syair keabadian.

Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013




BAIT INI KUCIPTA UNTUKMU


Ya – sengaja aku merapalkan kata-kata sakral itu hanya untuk menyulang kesedihan semata. Tanpa sedu sedan tegar memandang percakapan-percakapan  semu di sebuah acara televisi. Amarah mulai berdetak mengikuti arah pembicaraan, yang hanya membuat orang bosan. Anekdot yang selalu mencekoki pikiran rakyat kecil. Siapa bilang wajah bersahaja itu bersih ! Hanya kedok pemuas tahta – harta –wanita. Semakin larut perbincangan tolol itu semakin kita dibuat bodoh.

Ah – biarlah kusantap hidangan itu hanya untuk mengenyangkan angan saja. Tanpa sebab akibat lantaran kita selalu menjadi penonton bisu saja dalam sebuah panggung kemunafikan. Tinggal menanti kesempatan dalam kesempitan, hanya ini yang bisa kita nanti. Angan, ingin, dan hasrat sudah tak mungkin untuk merubah janji-janji. Kita memang selalu terkesampingkan, tapi kita bukan pecundang ! Kita adalah pemenang yang tak bertitel beku dilahap kabut keangkuhan dari para pecundang.

Oo – sengaja bait ini kucipta untukmu agar nasib generasiku kelak tak seperti yang sudah-sudah, buram termakan muslihat. Sengaja bait ini kucipta untukmu agar dihapal oleh janin-janin masa depan untuk membasmi racun-racun yang merebak hingga ke syaraf nurani.

Bumi Ale-Ale, 3 Februari 2013





KONSPIRASI


Adalah kita yang terbiasa mendengarkan saja dan tanpa menyaksikan kelenaan wajah-wajah murung menggapai secuil keadilan, padahal keadilam memang sudah digariskan atas perbuatan. Kemana arah angin berhembus membelai syahwat melewati batas batas kemampuan yang sudah ditakdirkan. Sepanjang kepekaan nurani yang tak terasah sentuhan rintih-rintih rakyat jelata, atau nyanmyian sumbang anak-anak tak berbapak, atau senyuman menyungging penuh rona merah maron milik wanita-wanita malam, bahkan sekali pun rengekan janin-janin yang tak berdosa di bilangan kali-kali kecil; merekan akan marah dan menyerapah hingga jasad menabur abu, bukan kembali ke tanah.

Adalah kamu yang terbiasa melecehkan kata-kata menawan di atas duka lara menguliti kisi-kisi peradaban, mengubah perlawanan menjadi sebuah kesepakatan kelam, tanpa menghiraukan makna perjuanagan tangan-tangan berlepotan ketakberdayaan. Mahalnya perjuangan itu tak sebanding dengan mahar yang telah dihamparkan pada bidar-bidar permufakatan dua kutub yang saling mengumbar keangkuhan.

Adalah selalu mengutamakan kesepakatan di atas dera angin malam mengungkung angan-angan suci menjadikan warna hari semakin tak mengental, buram membias hingga mengakar pada mozaik-mozaik belantara. Akankah hembus angin akan tetap menuju kesepakatan semula, atau bahkan akan limbung menjadi sebuah perlawanan tanpa basa-basi menerjang padang ilalang dalam hitungan detik. O – demi beribu jasad-jasad yang tak tenang akan kurajamkan pedang membisa untuk meleburkan mata hati para perompak berwajah lugu

Bumi Ale-Ale, 5 Februari 2013





PERJALANAN MEMBURU BAYANG, I


Rintik hujan selalu saja menemani keberangkatan fajar hingga kuyup tak terhindarkan. Matahari hilang tak menyembul sembunyi di balik bukit peraduan. Kotamu telah terlewai tanpa kerdip lurus memandang sepanjang aspal mengulur jalanan basah. Aku rindu akan malam kotamu, tapi sayang hasrat tak bisa terpenuhi, aku butuh senja di kota lain. Hasratku akan melabuh di malam   kota lain tempat perjuangan akan dimulai. Tempat di mana bayangan masa lalu bersembunyi dari kebenaran hakiki. Akan kumulai perburuan ini tanpa rasa. Aku memang tak ingin menggunakan rasa lantaran perburuan ini dimulai tanpa memperdulikan rasa.

Bumi Ale-Ale, 6 Februari 2013.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar