Senin, 11 Februari 2013

Sajak-sajak : Wyaz Ibn Sinentang.


SKETSA HARI KE LIMAPULUHTIGA


kutelusuri malioboro dengan sejuta obralnya
walau tanpa memburu jejak yang terpajang
di etalase-etalase keraton
di tembok-tembok pingitan
sesekali langkah terseok
namun cukup memberi makna
tentang parasmu di keremangan malam
menyaput segala jiwa raga nasib
O --- nuraniku bertanya pada rerantingan mega
apa masih ada suka duka
di antara derap delman-delman,
kayuhan tua becak-becak,
dan gemuruh riuh bis-bis kota,
yang  mencari sebongkah asa dan nafkah
dalam bimbang ragu gamang kusekat langkah
lihat !
pucat bulan sepenggal
serta decak gemirincing gemintang memaku
sekujur tubuh membujur kaku
menanti uluran dari para pengasih hati
terpancar kelu sedu sedan
pada dada rawan seorang bocah ingusan
yang selalu membelah sudut-sudut kota
tanpa rasa

Malioboro, Oktober 1989


  
 BIRU LANGITKU, MERAH TEKADKU
                   ( rindu yang kutunggu dari ujung kaki langit )


biru langitku, merah tekadku
yang telah sekian lama
kubongkar dalam angan-angan kosong nyanyian bambu
nyatanya, segala apa yang telah
mereka pertaruhkan dengan segenap jiwa
selalu kita abaikan makna luhurnya
(kusadari sepenuhnya arus zaman kian mengikis
mentalitas diri)

biru langitku, merah tekadku
yang datangnya semakin membara
terekam dalam sinyal-sinyal nyanyian matahari senja
tak dapat kupungkiri segala apa yang sudah
mereka ikrarkan atas keyakinan suci
pada akhirnya pun kita junjung bersama
(lapang sudah dada yang tadinya tertikam
mekanisme peradaban baru)

biru langitku, merah tekadku
tanah air – bangsa – bahasa
yang satu
; INDONESIA
biru langitku
merah tekadku
(enampuluhenam tahun lamanya kunanti dengan beribu
isyarat yang tak bisa kuterjemahkan garisnya)

Pontianak, Oktober 1994



 SAYAPKU, KEPAK SANG GAGAH PERKASA
                          ( dari balik awan kupagut elokmu )


akulah sang gagah perkasa !
dalam gebyarnya terbetik alkisah
selalu tersembunyi dari balik beribu makna
semburat nyanyian-nyanyian anjing liar
( ada duka, ada lara, ada nestapa, itu yang tak henti-
hentinya mengusik tidur kosongku )
haluan sejalan
menyisir garis-garis keriput tepian segara

akulah sang gagah perkasa !
sayapku, kepak si elang pemangsa
tahtaku, kemilau kencana putra buana
( tak kusangka, arakan mega berbanjar mendustai angan
yang ingin kumuntahkan kelak )

akulah sang gagah perkasa !
hingga separuh pendar bulan berwarna jingga
tersibak dari balik auratmu
letih pun tersandar memagut bulu-buluku
langkah pun semakin semrawut berjejer di pusar gelimu
entah tegar rasuki alam bawah sadarku
entah limbung meronta berontak atas angkuhku
( memang, antara jiwa tak pernah sepadan, saling telikung
beradu nafsu silih merupa angkara )

akulah sang gagah perkasa !
sayapku
kepak-kepak yang bertikai tanpa bangkai

Pontianak, Oktober 1994



MEMORI GENDENG, SEBUAH SAJAK
YANG KEHILANGAN KATA-KATA
                            ( bagi; Uray KHAs )

selama ini jarang kau cerna
apa makna senyum rembulan dari balik malam
jangan dinyana rautnya semulus
yang kau bayangkan, nyatanya banyak lobang
menganga siap menggerogot angan
yang kau idamkan

dalam benakmu yang terekam, samar
rangkaian kata-kata puitis
mendayu-dayu merayu setiap wajah ayu
kerap kau tuang dalam cawan halusinasi
( merah jingga lukisan mengawang semata
  memanjang pada dinding kenaifan )

apa jadinya jika ladang-ladang itu
kau tanduri beribu syak wasangka ?
igaumu tak lagi beraturan, nadanya
menggegerkan seisi alam
malam uring-uringan lantaran kokok ayam
dengan  sah memutar arah sang waktu
lantas kita semua dibuat gila
( rima-rima yang kau muntahkan terasa kikuk di kudukku
  terbayang seraut wajah menggugah kantuk menjelma sepotong
  cinta, asmara yang terhampar pada geladak-geladak petang ).


Pontianak, September 1995.



  NYANYIAN BURUNG HANTU


     Pekat.
     Desir angin bertarung ragu, iring gerai flamboyan rang-
kai basa di anjang malam, bertengger kantuk arwah tetua.
     Lihat !
     Remang kilau-kemilau bulan, sejukkan kubur mata liar
makara meramu tuah lewat isyarat bungah.
     Kurung fikir lepas berang kian padat, menari-nari di ubun
gelitik syaraf lantas merangkak, merengek dalam timangan
puting perahan senggama petang.
     Uuuuuuk.....khhhuuuuuuu.....uuuukkhhhhuuuu....................
     Gong – gali – galing – gonggong ...............................................
     Suara-suara pelog malam merenda gegap gempita lolong
gerammu, lantas, “ Gilagilagila lagilagilagi ! “ gertak gaung
pancang-pancang gegerkan rasa tak genah-genah, gegarkan
sudu manusia gila-gila.


Pontianak, 1994.



CINTAKU, GADIS BERLESUNG PIPIT
                 ( kepada ; gadis, saat kutahu kau manis )

Sayangku,
ada cinta kulihat dalam lesung pipitmu
malam hening sepi pun menjadi
kutenggak secawan air teh penghangat rasa
orang bijak dari langit berbicara tentang kemuliaan cinta
matanya nanar menerawang ke arah lampu jalanan
tangannya iseng menarik-narik janggut
sayangku,
ada cinta kutangkap dari lesung pipitmu
malam hening sepi pun menjadi
kulempar kata dari balik rerimbunan bambu
peziarah muda ungkapkan obsesi lewat dialog-dialog cinta
senyumnya hambar menggugat makna kabut tipis sepanjang perjalanan
tangannya iseng menggaruk-garuk kepala
seribu makna cinta mereka sodorkan
dari ada hingga tiada
sayangku,
cintaku tetap memagar pada lesung pipitmu.

Martadinata(Ptk), dini hari 2 Oktober 1994



EDELWEIS MEKARKU, CERITAMU DALAM KEMBARA USANGKU
                 ( pada suatu waktu, aku ingin bicara )


di puncakmu aku tak ingin luruh
jiwa maupun raga
kutuang garis-garis hari
dalam kata; bisu yang kudapat
pada kehendak mekarnya
yang menikam jantung
selaksa derita kau lemparkan
pada waktu kuncupnya
meraba embun basah
sekitar telaga yang kau alirkan

di puncakmu biarkan aku renungi
serpihan-serpihan yang kita tata
semasa kelopak-kelopak edelweis itu
tersenyum mengembang
dalam diam; asa yang kudamba
mungkin tak lagi mengekang
kata-kata yang kau hamparkan
mungkin juga nantinya
sayap-sayap yang patah akan menyatu
dalam makna kedamaian

di puncakmu akan kucabik
terpa benalu-benalu yang tak pernah bijak
di puncakmu jualah
akan kutanamkan pusara usang kita
( edelweis mengembang kembara pun berganti
haluan, mencari putik yang kutebarkan )

Pontianak, Oktober 1994



 SELINGKUH
          ( di atas lapar ada dukaku )


gairah-gairah yang kau persembahkan
bukanlah suatu estetika klasik
itu hanya sket-sket belaka
tersanjung lantaran mengulur usia
merapuh uzurmu di bantalan sofa
aku nervous !
kepul-kepul asap tua tusuk paru-paru
deru suci murni telanjangi wajah selaksa dusta
        kaki kananmu bergeser ke kiri
        kaki kirimu bergeser ke kanan
        toleh anggukan ke atas
        tinggalkan bawah
seketika itu pula pucuk ubi yang kau liwet
kegerahan, senyum nakalnya lirik larikku
manja, sepotong roti yang kupanggang harkatnya
melapis karatmu pada kisi-kisi keruh
dalam balutan sinar duka, harfiahnya :
cinta yang kau umbar di kegelapan mataku adalah kepul berasap
berselimut kemunafikan semata, oooiii --- asamara pun kau gadai
cinta ibarat lotere !

Pontianak, 1994



KETIKA KABUT MENUAI PETANG
                    
Ketika kabut menuai petang
gadis manis di pinggir jalan
diterpa debu angin gersang
gurat mentari patahkan angan

berlagu lawas mengenang kasih
mendendang rima sebait kisah

ketika kabut menuai petang
dalam riak lumpur pekat
sungkup mata torehkan kenang
pada simpul penuh hakekat

pahit memang pernah kurasa
manis nantinya madu kuterima.

Pontianak, September 1994.



SKENARIO HIDUP


dermaga sepi terpaut
jarak
dan
langkah
pusaran segala kisah
petaka
dan
gulita
( terpaku rinduku pada bayang berangmu )

memadu rasa
terasa penat memang
arah batas
terbias samar
meski noktah vulgar itu
memaksa ombak tuk purna waktu
mematung nyinyir angin
dalam cerminan galau
atas ringkih pujangga senja
pekik kelu camar binal
berseloroh bersama dengkur pantai
sodorkan cemburu
memburu nafas-nafas yang terluka

haiii !!!
wahaiii !!!
mentari jingga
kencangkan daratan
atas titah kisaran arus zaman
jadilah saksi sumpah jantung yang terkoyak

Pontianak, 1994



Tidak ada komentar:

Posting Komentar