Kisah Mencekam Di Malam Halloween
( karya : Annisa Melyana Andhiani )
Di saat malam Halloween, para
anak-anak dan remaja-remaja merayakan malam tersebut dengan sangat meriah.
Mereka mengenakan pakaian seram layaknya sesosok yang menakutkan seperti
penyihir, setan, hantu goblin dan sosok menakutkan lainnya. Tradisi perayaan
malam Halloween ini di rayakan tepat pada setiap tanggal 31 Oktober. Selain
mengenakan pakaian seram, mereka juga meminta permen atau coklat ke rumah-rumah
tetangga sambil berkata “trick or treat!”.
Dan di
suatu malam Halloween, ada seorang anak berumur sekitar 11 tahun sedang
menghiasi rumahnya dengan lampu gantung berwarna-warni dan menaruh sejumlah Jack o’-latern (yang sering kita sebut dengan labu
Halloween) di depan pintu rumahnya. Anak itu menaruh lilin di dalam labu-labu
yang ia pajang, agar kelihatan lebih terang dan lebih menakutkan di saat malam
mulai gelap.
“Hai
Elena!” sapa sekelompok anak yang sedang berjalan-jalan.
“Hai teman-teman!” sapa Elena kembali.
Elena lalu
menghampiri teman-temannya dan ikut mereka meminta permen dan coklat ke rumah
tetangga mereka.
“Elena, apa yang sedang kau
lakukan tadi saat di rumah?” tanya seorang temannya.
“Aku hanya menghias rumahku
dengan pernak-pernik Halloween,” jawab Elena.
“Oh....begitu,” ucap sang teman.
Di saat malam sudah mulai larut,
mereka ingin pulang ke rumah masing-masing. Tapi, Dominic mengajak
teman-temannya mencari apel dan meminta permen ke rumah-rumah orang yang
tinggal di dalam hutan Ebeline. Mendengar usul temannya itu, Elena menolak
ajakan temannya tersebut. Karena hutan Ebeline adalah hutan yang sangat
menyeramkan.
“Teman-teman,
aku tak mau ikut bersama kalian,” kata Elena kepada teman-temannya.
“Mengapa kau tak mau ikut Elena?” tanya
Dominic.
“Aku takut
pergi ke hutan tersebut, ibuku pasti akan mencariku. Dan kalian pasti tahu
sendiri kan, hutan itu sangat menyeramkan,” jawab Elena takut.
“Kamu ini
bagaimana sih Elena, kita kan sudah besar, seharusnya kita tak harus takut
dengan hal-hal yang menyeramkan seperti itu! Tapi terserah kamu saja, kalau
kamu tak mau ikut juga tidak masalah, kami bertiga saja yang akan pergi ke
hutan itu,” ujar Dominic kecewa.
Ketiga
teman Elena pun segera pergi ke hutan Ebeline. Sedangkan Elena kembali pulang
ke rumahnya. Tapi, sebelum Elena pulang ke rumah, ia mempunyai firasat buruk
akan kepergian teman-temannya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres
di dalam hutan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul
teman-temannya tersebut dengan hati gelisah.
Sesampainya
di hutan Ebeline, Elena memanggil nama teman-temannya.
“Dominic,
Andreas, Vanessa! Dimana kalian?!” panggil Elena.
“Percuma saja,” kata seseorang
tiba-tiba yang tak terlihat wujudnya oleh Elena.
“Suara siapa itu?” tanya Elena.
“Ya,
percuma saja kau mencari teman-temanmu itu. Karena pasti mereka sudah menjadi
santapan penyihir,” ucap seekor kucing berwarna kuning keemasan yang
menghampiri Elena dengan tiba-tiba.
“Hahh? Siapa kau?” tanya Elena dengan
heran.
“Perkenalkan, aku Catline, si kucing
pemberani,” jawab kucing itu.
“Oh ya?
Darimana kau tahu kalau teman-temanku sekarang sudah menjadi santapan
penyihir?” tanya Elena kembali.
“Tentu
saja aku tahu. Aku ini sudah lama tinggal di hutan ini. Jadi, aku banyak tahu
tentang keadaan hutan Ebeline,” jawab sang kucing.
“Oh....begitu
ya. Kalau begitu, kau mau tidak menemankanku untuk mencari teman-temanku?”
“Emmm....mau,
tapi aku tak bisa menjamin kalau teman-temanmu itu masih bisa selamat.”
“Baiklah....ayo
kita cari mereka sekarang!” ucap Elena
semangat.
Akhirnya,
Elena dan Catline pergi bersama mencari teman-temannya. Saat di tengah
perjalanan, Catline mencium aroma kue di tengah-tengah rerimbunan pohon di
hutan.
“Sepertinya aku ada mencium aroma
kue yang lezat, Elena,” kata Catline.
“Oh ya? Lebih baik kita mencari
asal dari bau itu saja, siapa tahu di sekitar sini ada terdapat rumah-rumah
penduduk,” ujar Elena.
Merekapun
segera mencari asal dari aroma kue tersebut, hingga mereka menemukan sebuah
rumah kecil di tengah-tengah hutan. Aroma yang mereka cari ternyata berasal
dari rumah tersebut. “Permisi!” kata Elena sambil mengetuk pintu rumah itu.
“Ya, sebentar?” Sahut seseorang
dari dalam sambil membuka pintu rumahnya. Dan munculah seorang gadis kecil
berambut coklat dari dalam rumah itu.
“Kalian siapa ya? Ada perlu apa?” tanya gadis tersebut.
“Aku Elena dan ini temanku Catline,” jawab Elena.
“Oh....ada perlu apa kalian
kemari?” tanya gadis itu lagi.
“Di saat kami sedang dalam
perjalanan, kami mencium aroma kue yang tampaknya sangat lezat. Dan kami
mencari-cari asal aroma tersebut, hingga kami menemukan rumahmu di
tengah-tengah hutan ini,” ujar Elena.
“Oh begitu. Ya sudah, silahkan
masuk.” Kata gadis kecil itu.
Di dalam
rumah gadis itu, Elena dan Catline di beri kue coklat yang sangat lezat. Dan
gadis itu memperkenalkan namanya, gadis itu bernama Melissa. Ia tinggal di
rumah ini sendirian. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kayu bakar di
hutan ini dan nantinya akan di jual ke pasar di pinggiran kota.
“Oh ya, apakah kamu ada melihat
teman-temanku lewat di sekitar sini?” tanya Elena dengan penasaran.
“Seperti apa ciri-ciri mereka?”
Tanya Melissa kembali.
“Mereka berjumlah 3 orang, yaitu
Dominic, Andreas, dan Vanessa. Kalau Dominic berambut gelap, memakai pakaian
kelelawar. Andreas berambut pirang, memakai pakaian drakula, dan Vanessa
berambut coklat, memakai pakaian peri,” ujar Elena.
“Oh ya! Aku pernah melihat mereka
di sekitar sini. Tadi mereka pergi ke arah timur, tampaknya mereka akan meminta
permen ke rumah Penyihir jahat,” jawab Melissa dengan raut wajah serius.
“Hahh?! Yang benar? Rumah
penyihir itu dimana?” tanya Elena dengan panik.
“Rumah penyihir itu tak terlalu
jauh dari sini, tapi kau harus berhati-hati jika menemui Penyihir itu, sebab ia
dapat berubah wujud menjadi apa saja dan siapa saja,” ucap Melissa.
“Baiklah, kami akan pergi
kesana,” kata Elena.
@@@@@
Tak lama
menunggu, Elena dan Catline pun segera meninggalkan rumah Melissa, dan bergegas
pergi, agar cepat sampai di rumah Penyihir tersebut. Di dalam perjalanan, Elena
dan Catline di kejutkan dengan munculnya kabut putih dengan tiba-tiba, dan
mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas di dalam hutan. Kemudian, dengan
tiba-tiba munculah seorang perempuan dari balik kabut putih itu. Elena dan
Catline pun terkejut.
“Hei kalian! Apa yang sedang
kalian lakukan di tengah hutan gelap seperti ini? Apakah kalian tak takut bila
ada Penyihir jahat melihat kalian dan akhirnya dia menangkap kalian dan di
bawanya pulang ke rumah untuk di jadikan santapannya yang lezat?” ujar
perempuan itu.
“Siapa kau?” tanya Elena dengan
wajah penasaran.
“Aku Viona. Tampaknya kalian
sedang mencari sesuatu. Kalian sedang mencari apa?” tanya perempuan itu.
“Ya, kami memang sedang mencari
teman kami. Apa kau pernah melihat mereka? Mereka berjumlah 3 orang,” tanya
Elena.
“Oh, sepertinya aku tahu orang
yang sedang kalian cari. Sepertinya mereka sedang menuju ke rumah Penyihir
jahat. Kalau tak keberatan, aku mau mengantarkan kalian ke rumah Penyihir itu,” jawab Viona.
“Ya. Sepertinya itu ide yang
bagus!” Kata Elena dengan tersenyum gembira.
“Tapi, apa kau tak takut
mengantarkan kami ke rumah Penyihir jahat? Dia kan Penyihir yang jahat,” tanya
Elena.
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti
itu,” jawab Viona.
Merekapun
segera pergi ke rumah Penyihir. Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah
Penyihir itu.
“Ayo, aku antar masuk ke rumahnya,” ajak Viona.
“Wow....berani sekali dia masuk
ke rumah Penyihir jahat,” ujar Elena dalam hati.
Mereka pun mengetok pintu
Penyihir, tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah tersebut. Rumah itu
tampak seram dan sepi. Elena, Catline, dan Viona pun segera masuk ke dalam
rumah Penyihir itu. Tanpa Elena sadari, Viona dengan pelan menutup pintu rumah
itu dan ia pun berubah dengan tiba-tiba menjadi sesosok Penyihir.
Ia berkata,
“Hahahaha.......kalian sudah tertipu!” ucap Penyihir itu.
Ternyata Viona itu adalah seorang
Penyihir yang menyamar menjadi orang baik.
Penyihir jahat itu pun langsung
mengikat Elena dan Catline dan menyekap mereka berdua di dalam ruangan yang
gelap. Penyihir itu akan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak Elena dan
Catline. Ternyata, Dominic, Andreas, dan Vanessa juga disekap oleh Penyihir di
ruangan yang sama. Sehingga mereka bertemu, tapi mereka sekarang sedang di ikat
dan tak bisa berbuat apa-apa.
Di saat mereka sedang kebingungan
mencari cara untuk lari dari rumah si Penyihir, tiba-tiba Catline mempunyai ide
bagus. Catline segera memutuskan tali yang mengikat mereka dengan kuku Catline
yang tajam. Tak lama kemudian, mereka semua lepas dari ikatan si Penyihir.
Mereka
segera mengatur rencana agar bisa melumpuhkan si Penyihir dan dapat lolos
darinya. Dominic dan Andreas akan bersembunyi di bawah meja dapur si Penyihir,
sedangkan Elena, Vanessa dan Catline akan memasukkan ramuan di dalam minuman si
Penyihir agar Penyihir merasa pusing dan akan kehilangan semua kekuatannya.
Di saat Penyihir sedang pergi ke
hutan untuk mencari kayu bakar, Elena, Vanessa dan Catline memasukkan ramuan
itu ke dalam minuman si Penyihir.
Sekitar 20 menit, Penyihir jahat itu kembali lagi ke
rumahnya, karena merasa letih, dia langsung meminum minumannya tersebut. Ia
sama sekali tak tahu bahwa minumannya itu sudah di beri ramuan yang dapat
membahayakan dirinya.
Setelah ia meminum minumannya,
Penyihir sangat merasa pusing, dan dia juga terlihat lemah. Melihat kejadian
itu, Dominic dan Andreas yang berada di bawah meja pun langsung meletakkan tali
di atas lantai, dan segera menariknya saat si Penyihir sedang pusing.
“Gubraaakkkk!!!!!!!!” Si Penyihir langsung terjatuh
kesakitan.
“Yeeeyyy!!!!!!!!! Kita berhasil!”
Teriak Dominic, Elena, Andreas, Vanessa dan Catline dengan gembira.
“Awas kalian ya! Aku akan
membalas perbuatan kalian kepadaku! Lihat saja nanti!” ucap si Penyihir jahat.
“Oh ya? Silahkan saja kalau kau
mau membalas kami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, karena semua
kekuatanmu sudah lenyap,” jawab Elena.
“Apa? Itu tidak mungkin! Aku
masih mempunyai banyak kekuatan,” ucap si Penyihir.
“Kalau kalian tak percaya, aku
akan membuktikannya kepada kalian. Lihat ini, jurus mematikan!!!!” ucap si
Penyihir jahat sambil mengucapkan mantranya.
Tapi, mereka semua terdiam.
“Hah?! Kemana semua kekuatanku?
Kekuatanku hilang!” kata si Penyihir dengan wajah kecewa.
“Kan sudah kami bilang, kekuatanmu
itu sudah lenyap,” ujar Vanessa sambil tersenyum.
Dengan wajah yang hina, si
Penyihir mencoba untuk lari dari anak-anak tersebut. Tapi, belum sempat
melarikan diri, Penyihir jahat itu berubah menjadi sebuah labu Halloween.
Anak-anak
itu semua sangat merasa bahagia, begitu juga dengan Catline. Kini mereka semua
bisa pulang ke rumah mereka masing-masing.
Dan akhirnya Dominic, Andreas dan
Vanessa merasa menyesal karena tak mau mengikuti nasehat Elena.
“Elena, kami minta maaf ya.
Karena kami tak mau mendengarkan nasehatmu,” ucap mereka bertiga dengan rasa
bersalah.
“ Iya, tidak apa-apa. Anggap saja
itu semua pelajaran berharga untuk kalian semua,” jawab Elena dengan tersenyum.
Mereka semua tak mau lagi pergi
ke hutan Ebeline, karena mereka semua sudah tahu bahwa hutan Ebeline itu sangat
berbahaya.*****
BIODATA
Annisa Melyana Andhiani, lahir di Kota Pontianak 10 September 1999. Sulung dari dua bersaudara buah
hati dari pasangan Wahyudi dan Ani Kurnia, seorang adik laki-laki yang bernama
M.Ziad Pahlevi. Saat ini sedang menimba ilmu di SMPN 3 Ketapang Kelas VIII
Billingual. Selain menulis cerpen juga suka menggambar dan mendesain.
Cita-citanya ingin menjadi seorang Desainer ternama. Alamat sekarang di Jalan
Gatot Subroto, Gang Hadi No.A6, Payak Kumang, Kota Ketapang (Kalimantan Barat).