Jumat, 31 Agustus 2012

SAJAK


TATUNG


ritual glittering which you serve
in a baking dish of the world
not means how much crucial
to guess the meaning of the day
jump from one line
to another line
restore white – black
even hunt disastrous
sculptured soul incarnated wadag
the spirits imagining

sat down elegant
on a throne of honor of  the gods
recite the choice breaths
be wrapped in blood
hio burst by flavor stab sudra
float leaden sky
then release in the float
endless ocean

vague, your face was transformed fog
vessel pierced greedy
glimpse of destiny is already anchored
in both your eyes
and finally your mystical trip
vanished, is stretched lives.

Post DSI (Ketapang), 02/13/2012

SAJAK


APA YANG  KAU CARI ?

Apa yang kau cari, sayangku?
setelah nanti ajal mengencang jasad
menuai petang selusur riol-riol
selaras selasar gubug yang engkau buru
apa yang kau cari, manisku?
sepanjang tetesan testis menghunjam rahim
sketsa rupa-rupa bungah
tak tentu dalil apa yang terpakai
apa yang kau cari dariku?
apa yang kau cari darimu?
apa yang kau cari dari kita?
apa yang kau cari dariNya?
apa yang kau cari sudah terbuang dalam keremangan malam
apa yang kau cari sudah terkunci dalam genggam murkaku
apa yang kau cari tak tertuang pada lembaran nirwana
apa yang kau cari tak tercantum pada akad-akad pujaan
apa yang kau cari akan kuserapah datangnya
apa yang kau cari akan kuusir kembaranya
apa yang kau cari kelak menatahkan aib seribu tuba
apa yang kau cari kelak menyiratkan dendam sepasang juriat
apa yang kau cari, sayangku?
apa yang kau cari, manisku?
apa yang kau cari, tak pernah ada pada kumisku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada cambangku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada janggutku
apa yang kau cari, tak pernah ada pada jantanku
apa yang kau cari tak habis-habisnya mengais sebaya masa
apa yang kau cari hanyalah wujud kesempurnaan belaka
apa yang kau cari, jangan kau cari, sebab, yang kau cari
tak pernah ada dalam saku celana bututku!


Pontianak, 1994. 

Sabtu, 25 Agustus 2012

SAJAK


MENUGAL  GAIRAH  KEMBARA
(menanti di kesenjangan masa)

Dingin menusuk sekujur rasa
jemari tlah merapat menanti hangat
detak waktu kian dekati arah janjimu
sementara nafas tak seliar dulu lagi
tertatih
redup di genggam-Nya
pun masa semakin jauh merentang usia.

Ketapang, 25072012




KETIKA  JINGGA  CINTA

Cinta tak sekedar menggodam rasa
Sayang melontar di ujung lidah
Rona memerah remahkan
Balutan sunyi menggugur.

Ketapang, Juli 2012



MENUNGGU GARIS JANJI-MU

Ketika semilir angin
tak berhembus semestinya
timpang sanggah amarah langit
berderak pecah mega
gemuruh dada cakrawala
membetas pinta karang ragu
dan gertak pupus
seiring pudar sorot surya kenanga
tunduk lesu harap mengubah hasrat
yang tadinya hendak bersenyawa
dalam kungkungan duniawi
ya – Khalik,
aku hanya butuh kun faya kun MU saja
untuk melepaskan penatnya
keangkuhan raga semata
sementara dacing perilaku umat
tegak di jalurnya
tinggal menunggu hari
yang berlaku dalam garis janjiMU.

Ketpang (Panwas), 240712

SAJAK


DE  JAVU
( suatu malam di garis batas angan )

Seperti dulu
kepakmu tetap saja membekas
pada palung rasa terdalam
membangkitkan arsiran-arsiran kenangan
membaur simpati tertata rapi di sudut ruang hati

seperti dulu
ketika petang memburu cakrawala tergugu
putihmu benderang sayat kisi-kisi malam
hasrat berpacu ukir impian yang sekian lama
terhalang cengkraman setengah purnama
berbilang kata-kata kecewa

seperti dulu
mungkinkah indah setia menjalani perjalanan makna
walau sejujurnya hujan angan kian menyempit
menambat kelu dalam pelabuhan asmara.

Ketapang, Agustus 2012

SAJAK


NYANYIAN PANTAI UTARA


Memilin kitaran hikayat
pasir saktimu
bak tikamkan
gurindam keraton
cak uncang
madah dare-dare pantai utara
digaul
cengkerama bedug masjid
di alun-alun
bergetar atma sultan-sultan
di ulu
lalu padu diri
dan
kita pun ada di zamannya.

Pontianak’86

PROFIL PENYAIR


WYAZ (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) IBN SINENTANG lahir di kota Pontianak tanggal 24 April 1966. Mulai menulis puisi sejak tahun 1980. Selain puisi juga menulis cerita pendek, dan artikel. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal,  nasional, maupun negeri jiran antara lain; Hr.Akcaya, Hr.Merdeka, Hr.Angkatan Bersenjata, Hr.Berita Yudha, Hr. Suara Karya, Mimbar Untan, Pabelan Pos,  Dwi Mingguan Mutiara,    Tabloid Keluarga, SKM Kemudi,  SKM Swadaya, SKM Swadesi, SKM Symponi, SKM Bintang Indonesia, SKM Inti Jaya, SKM Bharata, Majalah Suara Ummah, Majalah Suara Muhammadiyah, Majalah Kiblat, Majalah Radar, Hr. Mimbar Umum Medan, Majalah Ceria Remaja, Majalah Nashiha, Dinamika News Lampung, Majalah Budaya Sagang, Radio Singapore, penulistanahkayong.blogspot.com, puisi-mania.com, puisidansastra.com, e-sastera.com, jendelasastra.com, kuflet.com, kemudian.com, gudangpuisi.com,  apresiasipuisi.multiply.com, letterater.com, Horison Online, Koran-Cyber.com.   Karyanya juga terangkum dalam beberapa kumpulan bersama; Antologi Puisi BANGKIT III (Studio Seni Sastra Kota Batu, 1996), JEPIN KAPUAS RINDU PUISI (DKKB, 2000), ANUGERAH KHATULISTIWA (Literer Khatulistiwa, 2011), SENANDUNG ALAM (Leutika Prio, 2012), CAHAYA KHATULISTIWA DI TAMAN KATA (DKKP, 2012), GORESAN PENA UNTUKMU (AG Litera, 2012),  MERINDU RASUL DALAM SAJAK (Seruni Publishing, 2012),  DIVERSE ( Shell-Jagad Tempurung, June 2012 ), SUARA LIMA NEGARA (Tuas Mediamja, 2012), JANGAK (Kelopak Poedjangge, 2012), Antologi Cerpen KAIN TILAM (DKKB, 1998), ORANG-ORANG DI BATAS GARIS (Tuas Mediamja, 2012),    TENTANG BULAN (Leutika Prio, 2012), MUTIARA BERDEBU (Pustaka Awan, 2012), AIDS BERCERITA (Leutika Prio, 2012), MELUKIS MIMPI (Seruni, 2012), eBook Antologi Cerpen bunga rampai Cerita Pendek (cerpen-kita.weebly.com Juni 2012), dan Antologi  Puisi tunggalnya BERSAMA HUJAN (Kelompok Empat Kreatif, 2011).
        Pernah tergabung dalam KOMPAK (Kelompok Penulis Pontianak), Sanggar CS2K (Cipta Sastra Swara Khatulistiwa), Bengkel Sastra Kalbar, salah satu pendiri IPSKH (Ikatan Penulis Sastra Kota Hantu), Komite Sastra DKKP (Dewan Kesenian Kota Pontianak) tahun 2002, penggagas Komunitas Sastra Pinggiran Bunga Trotoar, penggagas Diskusi Sastra Imajiner Kembang Gula, owner KELOPAK POEDJANGGE.  
        Tahun 1995 menghadiri Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka di Taman Budaya Solo, mengikuti Dialog KALIMANTAN-BORNEO IV di Pontianak (Kalimantan Barat) tahun 1995. Pernah
mendukung pementasan teater; KERETA KENCANA (Sutradara Totok S.Raharjo, th 1994) sebagai Penata Lampu, MEGA-MEGA (Sutradara Totok S.Raharjo, th 1996) sebagai pelakon (Tukijan).
        Saat ini menetap di kota Ketapang, Jl. Gatot Subroto Gg. Hadi, Payak Kumang. Email: wahyudi.yudi4@gmail.com.

































Cerpen Anak


Kisah Mencekam Di Malam Halloween
( karya : Annisa Melyana Andhiani )
            Di saat malam Halloween, para anak-anak dan remaja-remaja merayakan malam tersebut dengan sangat meriah. Mereka mengenakan pakaian seram layaknya sesosok yang menakutkan seperti penyihir, setan, hantu goblin dan sosok menakutkan lainnya. Tradisi perayaan malam Halloween ini di rayakan tepat pada setiap tanggal 31 Oktober. Selain mengenakan pakaian seram, mereka juga meminta permen atau coklat ke rumah-rumah tetangga sambil berkata “trick or treat!”.
           Dan di suatu malam Halloween, ada seorang anak berumur sekitar 11 tahun sedang menghiasi rumahnya dengan lampu gantung berwarna-warni dan menaruh sejumlah Jack o’-latern  (yang sering kita sebut dengan labu Halloween) di depan pintu rumahnya. Anak itu menaruh lilin di dalam labu-labu yang ia pajang, agar kelihatan lebih terang dan lebih menakutkan di saat malam mulai gelap.
           “Hai Elena!” sapa sekelompok anak yang sedang berjalan-jalan.
           “Hai teman-teman!” sapa Elena kembali.
           Elena lalu menghampiri teman-temannya dan ikut mereka meminta permen dan coklat ke rumah tetangga mereka.
 “Elena, apa yang sedang kau lakukan tadi saat di rumah?” tanya seorang temannya.
 “Aku hanya menghias rumahku dengan pernak-pernik Halloween,” jawab Elena.
“Oh....begitu,” ucap sang teman.
 Di saat malam sudah mulai larut, mereka ingin pulang ke rumah masing-masing. Tapi, Dominic mengajak teman-temannya mencari apel dan meminta permen ke rumah-rumah orang yang tinggal di dalam hutan Ebeline. Mendengar usul temannya itu, Elena menolak ajakan temannya tersebut. Karena hutan Ebeline adalah hutan yang sangat menyeramkan.
           “Teman-teman, aku tak mau ikut bersama kalian,” kata Elena kepada teman-temannya.
           “Mengapa kau tak mau ikut Elena?” tanya Dominic.
           “Aku takut pergi ke hutan tersebut, ibuku pasti akan mencariku. Dan kalian pasti tahu sendiri kan, hutan itu sangat menyeramkan,” jawab Elena takut.
           “Kamu ini bagaimana sih Elena, kita kan sudah besar, seharusnya kita tak harus takut dengan hal-hal yang menyeramkan seperti itu! Tapi terserah kamu saja, kalau kamu tak mau ikut juga tidak masalah, kami bertiga saja yang akan pergi ke hutan itu,” ujar Dominic kecewa.
           Ketiga teman Elena pun segera pergi ke hutan Ebeline. Sedangkan Elena kembali pulang ke rumahnya. Tapi, sebelum Elena pulang ke rumah, ia mempunyai firasat buruk akan kepergian teman-temannya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam hutan tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi menyusul teman-temannya tersebut dengan hati gelisah.
           Sesampainya di hutan Ebeline, Elena memanggil nama teman-temannya.
“Dominic, Andreas, Vanessa! Dimana kalian?!” panggil Elena.
           “Percuma saja,” kata seseorang tiba-tiba yang tak terlihat wujudnya oleh Elena.
           “Suara siapa itu?”  tanya Elena.
           “Ya, percuma saja kau mencari teman-temanmu itu. Karena pasti mereka sudah menjadi santapan penyihir,” ucap seekor kucing berwarna kuning keemasan yang menghampiri Elena dengan tiba-tiba.
           “Hahh? Siapa kau?” tanya Elena dengan heran.
           “Perkenalkan, aku Catline, si kucing pemberani,” jawab kucing itu.
           “Oh ya? Darimana kau tahu kalau teman-temanku sekarang sudah menjadi santapan penyihir?” tanya Elena kembali.
           “Tentu saja aku tahu. Aku ini sudah lama tinggal di hutan ini. Jadi, aku banyak tahu tentang keadaan hutan Ebeline,” jawab sang kucing.
           “Oh....begitu ya. Kalau begitu, kau mau tidak menemankanku untuk mencari teman-temanku?”
           “Emmm....mau, tapi aku tak bisa menjamin kalau teman-temanmu itu masih bisa selamat.”
           “Baiklah....ayo kita cari mereka sekarang!” ucap Elena  semangat.
           Akhirnya, Elena dan Catline pergi bersama mencari teman-temannya. Saat di tengah perjalanan, Catline mencium aroma kue di tengah-tengah rerimbunan pohon di hutan.
           “Sepertinya aku ada mencium aroma kue yang lezat, Elena,” kata Catline.
 “Oh ya? Lebih baik kita mencari asal dari bau itu saja, siapa tahu di sekitar sini ada terdapat rumah-rumah penduduk,” ujar Elena.
           Merekapun segera mencari asal dari aroma kue tersebut, hingga mereka menemukan sebuah rumah kecil di tengah-tengah hutan. Aroma yang mereka cari ternyata berasal dari rumah tersebut. “Permisi!” kata Elena sambil mengetuk pintu rumah itu.
 “Ya, sebentar?” Sahut seseorang dari dalam sambil membuka pintu rumahnya. Dan munculah seorang gadis kecil berambut coklat dari dalam rumah itu.
 “Kalian siapa ya? Ada perlu apa?” tanya gadis tersebut.
 “Aku Elena dan ini temanku Catline,” jawab Elena.
 “Oh....ada perlu apa kalian kemari?” tanya gadis itu lagi.
 “Di saat kami sedang dalam perjalanan, kami mencium aroma kue yang tampaknya sangat lezat. Dan kami mencari-cari asal aroma tersebut, hingga kami menemukan rumahmu di tengah-tengah hutan ini,” ujar Elena.
 “Oh begitu. Ya sudah, silahkan masuk.” Kata gadis kecil itu.
           Di dalam rumah gadis itu, Elena dan Catline di beri kue coklat yang sangat lezat. Dan gadis itu memperkenalkan namanya, gadis itu bernama Melissa. Ia tinggal di rumah ini sendirian. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kayu bakar di hutan ini dan nantinya akan di jual ke pasar di pinggiran kota.
          “Oh ya, apakah kamu ada melihat teman-temanku lewat di sekitar sini?” tanya Elena dengan penasaran.
 “Seperti apa ciri-ciri mereka?” Tanya Melissa kembali.
 “Mereka berjumlah 3 orang, yaitu Dominic, Andreas, dan Vanessa. Kalau Dominic berambut gelap, memakai pakaian kelelawar. Andreas berambut pirang, memakai pakaian drakula, dan Vanessa berambut coklat, memakai pakaian peri,” ujar Elena.
 “Oh ya! Aku pernah melihat mereka di sekitar sini. Tadi mereka pergi ke arah timur, tampaknya mereka akan meminta permen ke rumah Penyihir jahat,” jawab Melissa dengan raut wajah serius.
 “Hahh?! Yang benar? Rumah penyihir itu dimana?” tanya Elena dengan panik.
 “Rumah penyihir itu tak terlalu jauh dari sini, tapi kau harus berhati-hati jika menemui Penyihir itu, sebab ia dapat berubah wujud menjadi apa saja dan siapa saja,” ucap Melissa.
 “Baiklah, kami akan pergi kesana,” kata Elena.

@@@@@

          Tak lama menunggu, Elena dan Catline pun segera meninggalkan rumah Melissa, dan bergegas pergi, agar cepat sampai di rumah Penyihir tersebut. Di dalam perjalanan, Elena dan Catline di kejutkan dengan munculnya kabut putih dengan tiba-tiba, dan mereka berdua tidak dapat melihat dengan jelas di dalam hutan. Kemudian, dengan tiba-tiba munculah seorang perempuan dari balik kabut putih itu. Elena dan Catline pun terkejut.
          “Hei kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di tengah hutan gelap seperti ini? Apakah kalian tak takut bila ada Penyihir jahat melihat kalian dan akhirnya dia menangkap kalian dan di bawanya pulang ke rumah untuk di jadikan santapannya yang lezat?” ujar perempuan itu.
 “Siapa kau?” tanya Elena dengan wajah penasaran.
 “Aku Viona. Tampaknya kalian sedang mencari sesuatu. Kalian sedang mencari apa?” tanya perempuan itu.
 “Ya, kami memang sedang mencari teman kami. Apa kau pernah melihat mereka? Mereka berjumlah 3 orang,” tanya Elena.
“Oh, sepertinya aku tahu orang yang sedang kalian cari. Sepertinya mereka sedang menuju ke rumah Penyihir jahat. Kalau tak keberatan, aku mau mengantarkan kalian ke rumah Penyihir itu,” jawab Viona.
 “Ya. Sepertinya itu ide yang bagus!” Kata Elena dengan tersenyum gembira.
 “Tapi, apa kau tak takut mengantarkan kami ke rumah Penyihir jahat? Dia kan Penyihir yang jahat,” tanya Elena.
 “Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu,” jawab Viona.
           Merekapun segera pergi ke rumah Penyihir. Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah Penyihir itu.
          “Ayo, aku antar masuk ke rumahnya,” ajak Viona.
 “Wow....berani sekali dia masuk ke rumah Penyihir jahat,” ujar Elena dalam hati.
 Mereka pun mengetok pintu Penyihir, tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah tersebut. Rumah itu tampak seram dan sepi. Elena, Catline, dan Viona pun segera masuk ke dalam rumah Penyihir itu. Tanpa Elena sadari, Viona dengan pelan menutup pintu rumah itu dan ia pun berubah dengan tiba-tiba menjadi sesosok Penyihir. 
Ia berkata, “Hahahaha.......kalian sudah tertipu!” ucap Penyihir itu.
Ternyata Viona itu adalah seorang Penyihir yang menyamar menjadi orang baik.
          Penyihir jahat itu pun langsung mengikat Elena dan Catline dan menyekap mereka berdua di dalam ruangan yang gelap. Penyihir itu akan menyiapkan bumbu-bumbu untuk memasak Elena dan Catline. Ternyata, Dominic, Andreas, dan Vanessa juga disekap oleh Penyihir di ruangan yang sama. Sehingga mereka bertemu, tapi mereka sekarang sedang di ikat dan tak bisa berbuat apa-apa.
 Di saat mereka sedang kebingungan mencari cara untuk lari dari rumah si Penyihir, tiba-tiba Catline mempunyai ide bagus. Catline segera memutuskan tali yang mengikat mereka dengan kuku Catline yang tajam. Tak lama kemudian, mereka semua lepas dari ikatan si Penyihir.
           Mereka segera mengatur rencana agar bisa melumpuhkan si Penyihir dan dapat lolos darinya. Dominic dan Andreas akan bersembunyi di bawah meja dapur si Penyihir, sedangkan Elena, Vanessa dan Catline akan memasukkan ramuan di dalam minuman si Penyihir agar Penyihir merasa pusing dan akan kehilangan semua kekuatannya.
          Di saat Penyihir sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar, Elena, Vanessa dan Catline memasukkan ramuan itu ke dalam minuman si Penyihir.
Sekitar 20 menit, Penyihir jahat itu kembali lagi ke rumahnya, karena merasa letih, dia langsung meminum minumannya tersebut. Ia sama sekali tak tahu bahwa minumannya itu sudah di beri ramuan yang dapat membahayakan dirinya.  
Setelah ia meminum minumannya, Penyihir sangat merasa pusing, dan dia juga terlihat lemah. Melihat kejadian itu, Dominic dan Andreas yang berada di bawah meja pun langsung meletakkan tali di atas lantai, dan segera menariknya saat si Penyihir sedang pusing.
 “Gubraaakkkk!!!!!!!!” Si Penyihir langsung terjatuh kesakitan.
 “Yeeeyyy!!!!!!!!! Kita berhasil!” Teriak Dominic, Elena, Andreas, Vanessa dan Catline dengan gembira.
 “Awas kalian ya! Aku akan membalas perbuatan kalian kepadaku! Lihat saja nanti!” ucap si Penyihir jahat.
 “Oh ya? Silahkan saja kalau kau mau membalas kami. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi, karena semua kekuatanmu sudah lenyap,” jawab Elena.
 “Apa? Itu tidak mungkin! Aku masih mempunyai banyak kekuatan,” ucap si Penyihir.
 “Kalau kalian tak percaya, aku akan membuktikannya kepada kalian. Lihat ini, jurus mematikan!!!!” ucap si Penyihir jahat sambil mengucapkan mantranya.
 Tapi, mereka semua terdiam.
 “Hah?! Kemana semua kekuatanku? Kekuatanku hilang!” kata si Penyihir dengan wajah kecewa.
 “Kan sudah kami bilang, kekuatanmu itu sudah lenyap,” ujar Vanessa sambil tersenyum.
Dengan wajah yang hina, si Penyihir mencoba untuk lari dari anak-anak tersebut. Tapi, belum sempat melarikan diri, Penyihir jahat itu berubah menjadi sebuah labu Halloween.
           Anak-anak itu semua sangat merasa bahagia, begitu juga dengan Catline. Kini mereka semua bisa pulang ke rumah mereka masing-masing.
          Dan akhirnya Dominic, Andreas dan Vanessa merasa menyesal karena tak mau mengikuti nasehat Elena.
 “Elena, kami minta maaf ya. Karena kami tak mau mendengarkan nasehatmu,” ucap mereka bertiga dengan rasa bersalah.
 “ Iya, tidak apa-apa. Anggap saja itu semua pelajaran berharga untuk kalian semua,” jawab Elena dengan tersenyum.
 Mereka semua tak mau lagi pergi ke hutan Ebeline, karena mereka semua sudah tahu bahwa hutan Ebeline itu sangat berbahaya.*****






BIODATA

Annisa Melyana Andhiani, lahir di Kota Pontianak 10 September 1999. Sulung dari dua bersaudara buah hati dari pasangan Wahyudi dan Ani Kurnia, seorang adik laki-laki yang bernama M.Ziad Pahlevi. Saat ini sedang menimba ilmu di SMPN 3 Ketapang Kelas VIII Billingual. Selain menulis cerpen juga suka menggambar dan mendesain. Cita-citanya ingin menjadi seorang Desainer ternama. Alamat sekarang di Jalan Gatot Subroto, Gang Hadi No.A6, Payak Kumang, Kota Ketapang (Kalimantan Barat).
           

















Cerpen Anak


ARTI SEBUAH PERSAHABATAN
( karya : Annisa M. Andhiani )

                Sunyi. Sepi. Lara. Itulah yang dialami Ratih  semenjak ditinggal pergi Ayah dan Ibu tercinta    untuk selamanya. Ya, mereka sudah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan saat bepergian ke luar kota.  Ratih sangat syok ketika perawat RSUD Agoes Djam memberi khabar bahwa kedua orangtuanya berada di rumah sakit. Yang lebih membuat gadis kecil itu terpukul adalah saat perawat itu bilang Ayah dan Ibunya sudah tiada.
             Walau pun sekuat hati ia berusaha untuk melupakan kejadian itu,  tetap saja peristiwa mengenaskan yang menimpa kedua orangtuanya masih membekas di hati. Ratih trauma. Ia berharap ada seorang teman yang bisa menghibur hari-harinya. Dan sampai saat ini ia belum mendapatkan sahabat yang diimpikan itu.
             “Tok..tok..tok. Non,  ada surat untuk Non !” Bi Ratna  mengetuk pintu sambil memanggil Ratih yang sedang terbaring di kamar.
             “Ada apa sih, Bi?” sahut Ratih dari dalam kamar.
             “Ini, ada surat untuk Non,” jawab Bi Ratna.
             “Oh, ya..selipin di bawah pintu saja suratnya Bi,” ujar Ratih.
             “Baik Non,” sahut Bi Ratna kembali.
             Tak lama berselang Ratih bangun dari  tidurnya, dan membuka pintu kamar untuk mengambil surat yang diberikan  Bi Ratna tadi. Betapa terkejutnya saat ia membaca surat itu. Ternyata surat itu dikirim oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Lebih mengejutkan lagi, orang itu bilang kalau dia ingin menjadi sahabat penanya. Hatinya sangat senang saat membaca surat yang dikirim  oleh seseorang yang ternyata bernama Vira. Sahabat barunya itu tinggal di Sukadana.  Dari sinilah mereka akhirnya sering mengirim curhat lewat surat. Jalinan persahabatan mereka pun semakin akrab dan harmonis.
             Kini, hidup Ratih tidak seperti yang dulu lagi. Ia tidak merasa hidup sendiri dan kesepian lagi. Semua itu sudah lebih baik dari kehidupan yang ia rasakan dulu. Ia berharap Vira akan menjadi sahabat sejati untuk selamanya.
             Pada suatu hari ketika Ratih hendak mengirim surat buat Vira, ia mengabarkan, “Vira, kalau tak keberatan, aku ingin kamu  menyertakan fotomu di dalam surat yang nanti hendak kamu kirim balik kepadaku.”
             Dan tak berapa lama surat balasan dari Vira pun datang. Ternyata ia menyelipkan foto dirinya di dalam surat itu. Dengan perasaan suka cita dibukanyalah surat itu.
 “Rat, ini adalah fotoku, semoga kamu senang melihatnya,” tulis Vira.
 “Ooo....jadi ini ya wajah Vira. Cantik sekali,” ucap Ratih dalam hati tersenyum gembira.
 Ratih pun kembali membalas surat yang di kirim Vira tadi. Ditulisnya kata-kata di atas kertas berwarna pink bergambar Snow White.
 “Vir, makasih ya udah ngirimin foto kamu.  Kapan-kapan  bisa nggak kita ketemuan ya?”
 Tetapi setelah beberapa hari  menunggu, surat balasan dari Vira tak kunjung tiba.
              “Tok..tok..tok.! Non, ada surat dari  kawannya Non !” panggil Bi Ratna  mengetuk pintu kamar Ratih.
             “Haahh..??!! Itu pasti surat dari Vira!” ucapnya dalam hati.  Ratih pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menemui Bi Ratna.
             “Bi, mana surat yang tadi Bibi mau kasih ke aku?” tanya Ratih tak sabaran.
             “Ini dia Non suratnya !” jawab Bi Ratna sembari memberi surat itu kepada Ratih.
             Dugaan Ratih ternyata benar. Tapi ada yang aneh saat ia membaca surat dari Vira kali ini. Dalam suratnya Vira bercerita, “Ratih sahabatku, nampaknya persahabatan kita harus berakhir sampai di sini. Aku tidak dapat mengirim surat lagi sama kamu. Karena aku harus pergi selamanya dari dunia ini. Jika kamu ingin menjengukku, kamu pergi saja ke Rumah Sakit Agoes Djam. Kamu tidak perlu informasi banyak dariku. Kamu akan tahu sendiri nanti. Kalau kamu tak mau terlalu bersedih nantinya, sebaiknya kamu pergi sekarang juga ke rumah sakit itu. Salam Persahabatan!”
 Ratih bingung dengan apa yang disampaikan Vira di dalam surat itu. Ia  heran, mengapa rumah sakit yang di sebutkan Vira tadi sama seperti rumah sakit tempat Ayah dan Ibunya sempat dirawat dulu.

@@@@@@

            Dengan rasa penasaran, Ratih pun segera pergi ke rumah sakit yang disebutkan Vira  di dalam surat tadi. Sesampainya di sana, Ratih langsung mencari informasi dan bertanya kepada perawat jaga.
 “Siang Suster, apa ada pasien di rumah sakit ini yang bernama Vira Amelia dari Sukadana ? Dia baru masuk kemarin malam,” tanya Ratih kepada perawat tersebut.
             “Oh ya...pasien yang bernama Vira Amelia memang sedang dirawat di rumah sakit ini,” jawab sang perawat lagi.
             “Dia berada di ruang mana ya, Sus?” tanya Ratih kembali.
             “Dia dirawat di Ruang Melati 4. Kalau memang adik ingin menjenguknya, lebih baik  segera ke sana,” ucap si perawat dengan raut wajah  serius.
             “Memangnya kenapa, Sus?” tanya Ratih  heran.
             “Sakitnya parah. Menurut dokter, hidupnya  diperkirakan  tinggal beberapa waktu lagi,” kata sang perawat.
             “Haahh??!!  Apa ? Memangnya dia  menderita penyakit apa, Sus?”  Ratih  gelisah. Wajahnya memucat.
             “Anak itu menderita tumor ganas di dalam otaknya. Kasihan sekali gadis itu.” ucap perawat itu.
             Tanpa basa-basi dan permisi, ia segera pergi menuju ke ruang tempat Vira di rawat. Ia berjalan setengah berlari sambil meneteskan air mata.
Akhirnya Ratih sampai di depan ruang di mana Vira dirawat. Dia segera masuk ke dalam kamar tersebut.
 Ratih tak kuasa menahan air matanya lagi, ketika melihat sahabat penanya yang ia sayangi tergolek di atas ranjang putih. Diam tak berdaya dengan selang infus menempel di hidung dan tangan. Di ruangan  juga ada kedua orangtua Vira, kakak dan adiknya. Mereka  bersedih.

Ratih menanyakan hal tersebut kepada Mama Vira. Mama Vira menjelaskan bahwa Vira mengidap penyakit ini sudah sejak lama. Saat mengetahui penyakit yang diidapnya, Vira merasa syok dan  tak mau bermain dengan teman-teman seusianya. Ia merasa minder. Sejak itulah Vira sangat merasa kesepian dan terasing.
             Dari situlah akhirnya Ratih mengerti mengapa Vira sampai-sampai mengirim surat kepadanya. Niatnya hanya satu, ingin  berteman.
 Ratih  mendekati Vira, lalu memegang tangan Vira sambil berkata, “Vir, walau pun kita tidak pernah bertemu selama ini, dan kita hanya dapat bertukar cerita lewat kata-kata , tapi kita tetap menjadi sahabat sejati.”
 Ratih  menangis sesunggukkan di hadapan Vira.
             Vira  hanya bisa diam tak bersuara di atas tempat tidurnya. Melihat Vira yang tergeletak tak berdaya, air mata Ratih mengalir semakin deras.
Tak lama kemudian tangan Vira mulai bergerak perlahan-lahan dan ia juga dapat mengeluarkan kata-kata pelan. Melihat kejadian itu, mama Vira  segera memanggil perawat yang lewat di depan kamarnya. Dan perawat itupun memanggil dokter.
 Setelah Vira di periksa dokter,  dokter menyatakan bahwa Vira sudah bebas dari masa kritisnya.
             Setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan, dokter berkata bahwa kondisi Vira sudah mulai membaik. Walau belum seratus persen pulih. Paling tidak ia dapat melewati masa kritis. Semua itu kuasa Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang, sehingga Vira dapat bertahan. Allah-lah yang mengatur semua kehidupan kita. Hidup atau pun mati.
             Ratih sangat bersyukur kepada Allah, karena sahabatnya Vira telah diberi kesempatan untuk hidup, juga diselamatkan dari penyakit maut. Ratih pun berterima kasih kepada Allah karena telah memberikan pengalaman hidup yang berharga bagi dirinya. (Ketapang, Maret 2012)*** 

Jumat, 24 Agustus 2012

Catatan Sastra Budaya


SEPINTAS SASTRAWAN DAN KOMUNITAS SASTRA DI KALIMANTAN BARAT

Kalimantan Barat
Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Barat, tidaklah sesubur di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1950-an dan 1960-an yang muncul secara  nasional   hanya Munawar Kalahan,  Herry Hanwari,  Soesani A., dan Yusakh Ananda. Dan yang paling menonjol dari generasi sastrawan ini hanya Yusakh Ananda (nama aslinya Zubier Muchtar) yang karyanya pernah mendapat pujian H.B. Jassin, dan beberapa cerpennya disertakan H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), dan di antaranya dibukukan dalam kumpulan cerpen Demikianlah pada Mulanya(1980) menunjukkan konsistensinya di dunia sastra. Meskipun sastrawan ini tidaklah terlalu produktif menghasilkan karya, namun dua cerpennya, yakniKampungku yang Sunyi dan Yang Masih Kuingat mampu menarik perhatian dunia dan diterjemahkan ke dalam dua bahasa: Prancis dan Belanda. Menurut Korrie Layun Rampan, karya-karya fiksi sastrawan kelahiran Kabupaten Sambas, Kalbar, 1934, ini merupakan puncak atau periode awal tumbuh dan berkembangnya kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan Barat. H.B. Jassin dan Ajip Rosidi memberikan penghargaan yang pantas untuk sastrawan yang sampai hari tuanya terus menetap di Kalbar dan tetap setia berkarya. Dan  atas dedikasi serta kualitas karya-karyanya itu maka kumpulan cerpennyaDemikianlah pada Mulanya secara khusus dibicarakan Korrie Layun rampan dalamCerita Pendek Indonesia, Buku II, seri khusus kritik cerpen (sedang dipersiapkan penerbitannya).
Pada periode yang sama, Yusakh Ananda didampingi oleh rekannya, seorang penyair kuat dari Kalbar, Munawar Kalahan (kini sudah almarhum). Sajak-sajak penyair yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kalimantan Barat ini juga dinilai berkualitas. Generasi sastrawan baru yang muncul setelah Yusakh Ananda dan kawan-kawan adalah Khairani Harfisari, Sulaiman Pirawan, Sataruddin Ramli, Effendi Asmara Zola, dan lain-lain. Karya-karya mereka dipublikasikan di media massa lokal seperti koran dan radio di kota Pontianak. Dekade 1980-an, lewat komunitas “Kelompok Penulis Pontianak” (KOMPAK – dideklarasikan 1 April 1984) yang dimotori oleh sastrawan muda Odhy’s dan kawan-kawan, generasi baru sastrawan mulai bermunculan, seperti Aant S. Kawisar (sempat menjadi redaktur di majalah sastra Horison), Aryo Arno Morario, Diant MST, Dharmawati TST, Mizar Bazarvio, Odhy’s, Tulus Sumaryadi, Tadjoel Khalwaty AS, Zailani Abdullah, Yudhiswara, Wyaz Ibn Sinentang, Chandra Argadinata, Mizan AR, Suwarto S, Uray Kastarani Has, dan Nie’s Alantas. Oleh perkembangan media massa, baik daerah maupun pusat (Jakarta), bermunculan pula nama-nama Mayzar Seylendra, Aspan Ananda, Pradono, Mulyadi, Syarif Zolkarnaen Shahab, Yoseph Oedilo Oendoen, Harun Das Putra, dll. Karya-karya mereka ini tersebar di harian Akcaya di Pontianak dan di sejumlah media massa di Jakarta seperti Horison, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kompas, Swadesi, Mutiara, Merdeka, Media Indonesia, Republika, Pelita, majalah Kartini, Amanah, Panji Masyarakat, dll.
Puncak kesusastraan Indonesia mutakhir di Kalimantan Barat ditempati oleh dua penyair yang keduanya sudah almarhum, yaitu Odhy’s (1955-2005) dan Yudhiswara (1957-2006) yang sempat memublikasikan sajak-sajak mereka di media massa Jakarta dan kota-kota lainnya di Kalimantan, Jawa, Sumatera, Brunei Darussalam, dan Malaysia, di samping telah menerbitkan sajak-sajak mereka dalam antologi tunggal maupun bersama. Odhy’s (nama lengkapnya Muhammad Zuhdi Saad, lahir di Pontianak, 8 Agustus 1955, dan meninggal dunia di India, 3 Mei 2005) mulai menulis, terutama cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku sejak 1975. Karyanya dipublikasikan di berbagai media massa daerah dan Jakarta. Antologi sajak tunggal terbarunya adalah Sang Guru Sufi(penerbit BUKULAILA, Yogyakarta, Maret 2005). Sosok kepenyairan dan karyanya juga tercantum dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia, dan Buku Pintar Kesusastraan Indonesia (keduanya dieditori Pamusuk Eneste), Jejak Langkah Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 1986), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 2002), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan KorrieLayun Rampan, dalam proses penerbitan). Odhy’s juga sering diundang membacakan sajak-sajaknya di berbagai forum sastra(wan) di tanah air dan  kegiatan sastra di negara serumpun, antara lain: Forum Puisi Indonesia (TIM, Jakarta, 1987), Dialog Borneo (Serawak, malaysia Timur, 1987), sebagai pembicara dalam Pertemuan sastrawan Nusantara VI (di Kuching, Malaysia Timur, 1988), Dialog Kalimantan Borneo IV (Pontianak, Kalbar, 1995),  Simposium Antarbangsa Raja Ali Haji (Pulau penyengat, Riau, 1996), dan beberapa forum sastra lainnya. Forum sastra yang tak sempat diikutinya – beberapa bulan sebelum acara diselenggarakan ia sudah wafat – adalahCakrawala Sastra Indonesia, di Taman Ismail Marzuki, 13-15 September 2005 (penyelenggara Dewan Kesenian Jakarta). Dalam acara ini DKJ juga menerbitkan antologi puisi Perkawinan Batu (DKJ, 2005) yang memuat puisi para penyair Kalsel, Kaltim, dan Kalbar. Judul antologi itu diambil dari salah satu judul sajak Odhy’s “Perkawinan Batu”. Semasa hidup dan berkiprah di dunia sastra, Odhy’s juga aktif bergiat di Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB, sebagai Ketua Komite Sastra) dan Dewan Kesenian Kota Pontianak (DKKP, juga menjabat Ketua Komite Sastra). Sementara sajak-sajak Yudhiswara juga dipublikasikan di berbagai media massa Jakarta, Brunei, Malaysia, dan sempat pula menerbitkaan 9 antologi puisi,  di antaranya  Hujan Lolos dari Sela Jari danJakarta dalam Puisi Mutakhir (Masyarakat Sastra Jakarta, 2000, editor Korrie Layun Rampan). Beberapa sajaknya juga dimuat dalam bunga rampai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan Korrie Layun Rampan).
Maraknya komunitas sastra di tahun 1980-an dan 1990-an di Kalbar, khususnya di kota Pontianak, seiring waktu makin menampakkan kesenyapannya. KOMPAK (Kelompok Penulis Pontianak), HPCP (Himpunan Pencipta Cerpen dan Puisi), HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara), Komite Sastra di Dewan Kesenian Kalbar maupun Dewan Kesenian Pontianak, hingga hari-hari terakhir ini sudah tak terdengar lagi gaung kegiatan maupun lahirnya karya-karya besar dari para sastrawannya. Apalagi sepeninggal Odhy’s dan Yudhiswara – sebagai motor penggerak ataupun motivator sastra(wan) – kegiatan dan perkembangan sastra nampak tersendat-sendat hingga berujung pada krisis penciptaan karya sastra. Semoga saja masa-masa stagnasi di ranah sastra Kalimantan Barat ini tidaklah berkepanjangan.
***
Demikianlah gambaran sepintas tentang sastrawan dan komunitas sastra di empat provinsi Kalimantan dari dekade ke dekade pertumbuhan dan perkembangannya. Sastra Indonesia di Kalimantan, bagaimana pun ia masih bernapas, berdenyut, bergerak, dan  bersuara, di tengah riuh-gemuruhnya eksploitasi dan eksplorasi membabi-buta para penjarah, perampok, begal,  terhadap kekayaan sumber daya alam (hutan, minyak bumi, batubara, bijih besi, emas) di Kalimantan yang semakin terkikis dan kritis hingga berdampak pada bencana longsor dan banjir di mana-mana. Ya, sastra dan sastrawan di Kalimantan, sampai hari ini masih tetap hidup, punya tempat dan peran di ranah kesusastraan Indonesia!
Palangka Raya, Desember 2007-Banjarmasin, Januari 2008.
Daftar Pustaka
Hijaz Yamani, Kegiatan Para Sastrawan Kalimantan Selatan dari Waktu ke Waktu, makalah “Temu Sastrawan se-Kalimantan Selatan 1998” (Komite Sastra Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, September 1998).
Korrie Layun Rampan, Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia (harian Merdeka, 9 Juni 1983).
Korrie Layun Rampan, 70 Tahun Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan (Radar Banjar, 8 Juni 2003).
Micky Hidayat, Mengenal Kegiatan Sastra di Kota Pasir, Palangkaraya: Menaburkan