Jumat, 24 Agustus 2012

CERPEN




TITIK DAN AIR MATA
( Karya : Wyaz Ibn Sinentang )
         
Adalah titik ketidakpuasan dalam darah dan daging. Kapan dan bagaimana rupa air yang mengalir dalam pusaran alam, kita wajib menguak borok.
          Diam. Aku diam dalam gamang. Jantung berdetak kencang menanti jawab.
          Aku tadinya tak pernah akan mengira kalau-kalau perasaan mega putih berarak bisa galau. Sebab, sedari melangkah langkaui pulau menuju Pantai Air Mati hasrat mencumbui tingkahnya  cuma bisa kupendam di angan.
            Di pantai tak bertuan kubertanya pada lumpur, “ Mana angin, mana matahari, dan mana air mata bumi ?”
              Lumpur pekat di kaki Bakau bisu. Air mata memang tak ada lagi di kandungnya.
           Jadi, semakin aku menyusuri sepanjang hamparan pasir pantai tak bertuan, sepi menugal hari.
       Lambat-lambat dendang angin menambat derita. Cerita orang-orang perahu menambah perih air mata. Seakan tak ada lagi peradaban yang jujur. “ Ya Allah, kirimkan saja isak tangis mereka ke lembah dosa !” aku marah meradang.
          Tapi, batas kesabaran itu ada makna. Coba kugali air mata. Apa yang terjadi? Semakin jauh ke dalam tak ada apa-apa. Pertanda kemarau. Kemarau duniawi. Dunia yang dipenuhi dengan berbagai tipu daya. Dunia yang enggan menafsirkan kegundahan air mata.
          Air mata adalah titik kesedihan, derita, dan bahagia. Kisah usang yang tak berujung. Bertahun aku aku mencari makna ujud kebenarannya. Bertahun pula aku tak dapat memahaminya.

@@@@@@    

Malam pun tiba. Pantai tampak sunyi. Aku terpaku sendiri tanpa siapa-siapa. Orang-orang perahu pergi bertambat entah ke mana. Tinggal hampa bertemankan desiran angin dan deburan ombak. Sesekali sekawanan kera putih menampakkan diri. Mahluk ini memang sudah agak langka di daerah ini. Hanya di Pantai Air Mati masih dapat ditemui. Itupun pas kalau mereka ingin menampakkan diri. Kalau tidak, jangan harap bisa melihat.
          Dingin menusuk sekujur tubuh. Hanya kerlip bintang yang menghibur. Sesekali cahayanya hendak menyapa kesendirian ini. Menambah akrab suasana yang sedari tadi kurang terbangun apik.
          Aku coba kontak secara naluri sesama ciptaan Allah. Siapa tahu ia bisa membantu mencari di mana keberadaan air mata. Mungkin saja letak bintang yang jauh di atas sana dapat memantau keberadaan air mata. Kembali lagi sifat yang selalu igin mencoba-coba itu hadir. Sifat yang sebetulnya tak punya ketegasan dan pendirian. Itulah manusia.
          Ia menggeleng tanda tak paham dengan permintaanku. Aku kecewa. Kepada siapa lagi aku harus bertanya ?
          Dan ternyata memang mencari suatu titik yang hakiki itu sulit. Ketika hitam harus bilang hitam, ketika putih harus bilang putih.

@@@@@@

          Fajar pagi mulai keluar dari peraduannya. Pantai Air Mati masih tampak sepi-sepi saja. Desir angin dan debur ombak memecah heningnya hati. Sedari malam hingga kini, tak sebayang makna tentang air mata yang bergulir dan merambah wadagku. Hanya terlintas titik yang melambangkan kekosongan jiwa, pergerakan, dan diam.
          Pencarian air mata tampak tak berujung. Hilang makna. Berubah ujud. Sekarang menggoda tanya tentang titik.
          Titik adalah diam. Dan diam adalah titik. Tapi diam belum tentu tak bergerak. Dalam diamnya raga, sukma masih bisa bergerak mengikuti alur kehidupan.        
Kucoba merenungi. Kucoba mencari hubungan antara titik dan air mata. Barangkali ada korelasinya secara bathiniah.
          Rupanya sepasang mata diam-diam memperhatikan kegundahanku. Hadirnya memang tak diundang. Terpajang dalam sebuah bingkai lukisan alam, pada hamparan pasir putih yang membujur di bibir pantai. Seperti halusinasi. Namun nyata dalam pandangan bathin.
          Perlahan dan pasti sepasang mata tadi mulai mengajak berkomunikasi. Kelihatan dari sorot yang tadinya melemah menjadi benderang. Bak lampu sokle mercusuar. Langit agak memburam. Sinar mentari terhalang bayangannya sendiri. Ombak yang tadinya ramah, kini mulai menjadi ganas. Bukan hanya pusaran air saja yang dipecah, karang-karang di ujung pantai dihantam membabibuta. Angin mulai gelagapan menampar dahan-dahan nyiur. Ini pertanda badai akan bergolak seiiring kebangkitan sepasang mata tak diundang tadi.
          “ Jangan tanya siapa diriku ? Sebab aku bukanlah siapa-siapa. Aku hadir dari sebuah titik yang kau maksud !”
          Aku terkesiap. Diam tergugu. Tanpa bisa menahan kata-katanya. Kata bermakna tak berujud. Darahku meluruh. Beku.
          “ Dalam ujud pasti ada diam yang bergerak mencari makna. Coba kau renungkan baik-baik !” kata sepasang mata tadi.
          Kembali aku terdiam. Bingung dengan perkataannya. Hati mulai gundah. Ada rasa bergejolak ingin memberontak keluar dari raga. Terjadilah perang dalam kegelisahan. Raga dan sukma masing-masing ingin menunjukkan kekuatannya.
          Kini ujud sosok tak berupa itu melebar, tak lagi menghampar di lautan pasir. Beranjak pasti di atas angin. Menutup sebagian dataran. Nyiur pantai tertunduk, angkuhnya sekejab sirna termakan sosok tadi.
          “ Wahai engkau manusia, titik dalam dirimu adalah air mata hidup sementara. Satukan raga dan sukmamu. Karena titik dan air mata adalah nyanyian keabadian yang tak dapat engkau cerna seutuhnya. Kenalilah diri dulu. Baru nanti sampai waktunya ia akan bergulir tanpa perintah dan arah,” ujar sosok yang kini berubah menjadi sepasang mata raksasa.
Aku kembali terdiam mencerna kata-katanya. Sontak tersadar, raga dan sukma sudah terpisah karena mempertahankan ego masing-masing. Kucoba untuk menyatukan kembali. Upayaku sia-sia. Mereka merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang. Berpisah, tak menyatu.
Tiba-tiba tubuhku limbung mencium hamparan pasir putih. Terbujur kaku tanpa gerak. Sukmaku melayang-layang ke angkasa lepas. Tersenyum puas memandang pekatnya dunia.
Semua serasa gelap. Tak ada apa-apa.
Kosong.
Sepasang mata asing itu tertawa puas penuh kenikmatan. Tawa kemenangan di atas penderitaan tubuhku. Tawa itu menghias ke seantero samudera lepas sekitar pantai yang diyakini menyimpan sejuta misteri.
Aku terbelah di dua bahagian yang tak kunjung sempurna. Karena sempurna bukan milik kita. Milik Sang Pencipta alam semesta.
Sekawanan kera putih mengerumuni jasadku yang terbujur membeku di atas pasir putih menghampar, lantas berputar mengitari tubuh kaku ini sembari meneriakkan suara-suara sumbang yang tak jelas maknanya. Mereka berlari semakin cepat bagai angin membuat jasadku terangkat tinggi, dan kemudian terbanting keras berderak pecah menjadi debu. Hilang terbawa angin.
Tinggal titik tak berbentuk
Kita. Aku. Hanya sebuah titik.
Titik kosong yang tak berarti apa-apa. Air mata ? Sama kosongnya ketika kita tak bergerak lagi. Saat kita kosong dari segalanya, kosong dalam artian tak sebentuk pun hadir di jagad ini.
Titik dan air mata telah kosong.
Inilah akhir sebuah kehidupan semu.
Kembali kosong ke satu titik. Tak berarti apa-apa.
Titik nadir yang tak kembali.
Akhirnya kosong dan kosong, tanpa titik.
Titik milik Sang Pencipta.*** (Ketapang, 2012)

Keterangan:
-          Pantai Air Mati : tempat rekreasi di daerah Sei Awan Kanan, tepatnya di Dusun         Darussalam, tempat bermigrasinya burung-burung dari luar KalBar.
-          Sokle : lampu mercusuar.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar