TITIK
DAN AIR MATA
( Karya : Wyaz Ibn Sinentang )
Adalah
titik ketidakpuasan dalam darah dan daging. Kapan dan bagaimana rupa air yang
mengalir dalam pusaran alam, kita wajib menguak borok.
Diam. Aku diam dalam gamang. Jantung
berdetak kencang menanti jawab.
Aku tadinya tak pernah akan mengira
kalau-kalau perasaan mega putih berarak bisa galau. Sebab, sedari melangkah
langkaui pulau menuju Pantai Air Mati
hasrat mencumbui tingkahnya cuma bisa
kupendam di angan.
Di pantai tak bertuan kubertanya pada
lumpur, “ Mana angin, mana matahari, dan mana air mata bumi ?”
Lumpur pekat di kaki Bakau bisu. Air
mata memang tak ada lagi di kandungnya.
Jadi, semakin aku menyusuri sepanjang
hamparan pasir pantai tak bertuan, sepi menugal hari.
Lambat-lambat dendang angin menambat
derita. Cerita orang-orang perahu menambah perih air mata. Seakan tak ada lagi
peradaban yang jujur. “ Ya Allah, kirimkan saja isak tangis mereka ke lembah
dosa !” aku marah meradang.
Tapi, batas kesabaran itu ada makna.
Coba kugali air mata. Apa yang terjadi? Semakin jauh ke dalam tak ada apa-apa.
Pertanda kemarau. Kemarau duniawi. Dunia yang dipenuhi dengan berbagai tipu
daya. Dunia yang enggan menafsirkan kegundahan air mata.
Air mata adalah titik kesedihan,
derita, dan bahagia. Kisah usang yang tak berujung. Bertahun aku aku mencari
makna ujud kebenarannya. Bertahun pula aku tak dapat memahaminya.
@@@@@@
Malam
pun tiba. Pantai tampak sunyi. Aku terpaku sendiri tanpa siapa-siapa.
Orang-orang perahu pergi bertambat entah ke mana. Tinggal hampa bertemankan
desiran angin dan deburan ombak. Sesekali sekawanan kera putih menampakkan
diri. Mahluk ini memang sudah agak langka di daerah ini. Hanya di Pantai Air
Mati masih dapat ditemui. Itupun pas kalau mereka ingin menampakkan diri. Kalau
tidak, jangan harap bisa melihat.
Dingin menusuk sekujur tubuh. Hanya
kerlip bintang yang menghibur. Sesekali cahayanya hendak menyapa kesendirian
ini. Menambah akrab suasana yang sedari tadi kurang terbangun apik.
Aku coba kontak secara naluri sesama ciptaan
Allah. Siapa tahu ia bisa membantu mencari di mana keberadaan air mata. Mungkin
saja letak bintang yang jauh di atas sana dapat memantau keberadaan air mata.
Kembali lagi sifat yang selalu igin mencoba-coba itu hadir. Sifat yang
sebetulnya tak punya ketegasan dan pendirian. Itulah manusia.
Ia menggeleng tanda tak paham dengan
permintaanku. Aku kecewa. Kepada siapa lagi aku harus bertanya ?
Dan ternyata memang mencari suatu
titik yang hakiki itu sulit. Ketika hitam harus bilang hitam, ketika putih harus
bilang putih.
@@@@@@
Fajar pagi mulai keluar dari
peraduannya. Pantai Air Mati masih tampak sepi-sepi saja. Desir angin dan debur
ombak memecah heningnya hati. Sedari malam hingga kini, tak sebayang makna
tentang air mata yang bergulir dan merambah wadagku. Hanya terlintas titik yang
melambangkan kekosongan jiwa, pergerakan, dan diam.
Pencarian air mata tampak tak
berujung. Hilang makna. Berubah ujud. Sekarang menggoda tanya tentang titik.
Titik adalah diam. Dan diam adalah
titik. Tapi diam belum tentu tak bergerak. Dalam diamnya raga, sukma masih bisa
bergerak mengikuti alur kehidupan.
Kucoba
merenungi. Kucoba mencari hubungan antara titik dan air mata. Barangkali ada
korelasinya secara bathiniah.
Rupanya sepasang mata diam-diam
memperhatikan kegundahanku. Hadirnya memang tak diundang. Terpajang dalam
sebuah bingkai lukisan alam, pada hamparan pasir putih yang membujur di bibir
pantai. Seperti halusinasi. Namun nyata dalam pandangan bathin.
Perlahan dan pasti sepasang mata tadi
mulai mengajak berkomunikasi. Kelihatan dari sorot yang tadinya melemah menjadi
benderang. Bak lampu sokle mercusuar.
Langit agak memburam. Sinar mentari terhalang bayangannya sendiri. Ombak yang
tadinya ramah, kini mulai menjadi ganas. Bukan hanya pusaran air saja yang
dipecah, karang-karang di ujung pantai dihantam membabibuta. Angin mulai
gelagapan menampar dahan-dahan nyiur. Ini pertanda badai akan bergolak seiiring
kebangkitan sepasang mata tak diundang tadi.
“ Jangan tanya siapa diriku ? Sebab
aku bukanlah siapa-siapa. Aku hadir dari sebuah titik yang kau maksud !”
Aku terkesiap. Diam tergugu. Tanpa
bisa menahan kata-katanya. Kata bermakna tak berujud. Darahku meluruh. Beku.
“ Dalam ujud pasti ada diam yang
bergerak mencari makna. Coba kau renungkan baik-baik !” kata sepasang mata
tadi.
Kembali aku terdiam. Bingung dengan
perkataannya. Hati mulai gundah. Ada rasa bergejolak ingin memberontak keluar
dari raga. Terjadilah perang dalam kegelisahan. Raga dan sukma masing-masing
ingin menunjukkan kekuatannya.
Kini ujud sosok tak berupa itu
melebar, tak lagi menghampar di lautan pasir. Beranjak pasti di atas angin.
Menutup sebagian dataran. Nyiur pantai tertunduk, angkuhnya sekejab sirna
termakan sosok tadi.
“ Wahai engkau manusia, titik dalam
dirimu adalah air mata hidup sementara. Satukan raga dan sukmamu. Karena titik
dan air mata adalah nyanyian keabadian yang tak dapat engkau cerna seutuhnya.
Kenalilah diri dulu. Baru nanti sampai waktunya ia akan bergulir tanpa perintah
dan arah,” ujar sosok yang kini berubah menjadi sepasang mata raksasa.
Aku kembali
terdiam mencerna kata-katanya. Sontak tersadar, raga dan sukma sudah terpisah
karena mempertahankan ego masing-masing. Kucoba untuk menyatukan kembali.
Upayaku sia-sia. Mereka merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang. Berpisah,
tak menyatu.
Tiba-tiba
tubuhku limbung mencium hamparan pasir putih. Terbujur kaku tanpa gerak.
Sukmaku melayang-layang ke angkasa lepas. Tersenyum puas memandang pekatnya
dunia.
Semua serasa
gelap. Tak ada apa-apa.
Kosong.
Sepasang mata asing
itu tertawa puas penuh kenikmatan. Tawa kemenangan di atas penderitaan tubuhku.
Tawa itu menghias ke seantero samudera lepas sekitar pantai yang diyakini
menyimpan sejuta misteri.
Aku terbelah
di dua bahagian yang tak kunjung sempurna. Karena sempurna bukan milik kita.
Milik Sang Pencipta alam semesta.
Sekawanan kera
putih mengerumuni jasadku yang terbujur membeku di atas pasir putih menghampar,
lantas berputar mengitari tubuh kaku ini sembari meneriakkan suara-suara
sumbang yang tak jelas maknanya. Mereka berlari semakin cepat bagai angin
membuat jasadku terangkat tinggi, dan kemudian terbanting keras berderak pecah
menjadi debu. Hilang terbawa angin.
Tinggal titik
tak berbentuk
Kita. Aku.
Hanya sebuah titik.
Titik kosong
yang tak berarti apa-apa. Air mata ? Sama kosongnya ketika kita tak bergerak
lagi. Saat kita kosong dari segalanya, kosong dalam artian tak sebentuk pun
hadir di jagad ini.
Titik dan air
mata telah kosong.
Inilah akhir
sebuah kehidupan semu.
Kembali kosong
ke satu titik. Tak berarti apa-apa.
Titik nadir
yang tak kembali.
Akhirnya
kosong dan kosong, tanpa titik.
Titik milik
Sang Pencipta.*** (Ketapang,
2012)
Keterangan:
-
Pantai
Air Mati : tempat rekreasi di daerah Sei Awan Kanan, tepatnya di Dusun Darussalam, tempat bermigrasinya
burung-burung dari luar KalBar.
-
Sokle
: lampu mercusuar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar