Jumat, 24 Agustus 2012

Catatan Sastra Budaya


SEPINTAS SASTRAWAN DAN KOMUNITAS SASTRA DI KALIMANTAN BARAT

Kalimantan Barat
Pertumbuhan dan perkembangan sastra di Kalimantan Barat, tidaklah sesubur di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1950-an dan 1960-an yang muncul secara  nasional   hanya Munawar Kalahan,  Herry Hanwari,  Soesani A., dan Yusakh Ananda. Dan yang paling menonjol dari generasi sastrawan ini hanya Yusakh Ananda (nama aslinya Zubier Muchtar) yang karyanya pernah mendapat pujian H.B. Jassin, dan beberapa cerpennya disertakan H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), dan di antaranya dibukukan dalam kumpulan cerpen Demikianlah pada Mulanya(1980) menunjukkan konsistensinya di dunia sastra. Meskipun sastrawan ini tidaklah terlalu produktif menghasilkan karya, namun dua cerpennya, yakniKampungku yang Sunyi dan Yang Masih Kuingat mampu menarik perhatian dunia dan diterjemahkan ke dalam dua bahasa: Prancis dan Belanda. Menurut Korrie Layun Rampan, karya-karya fiksi sastrawan kelahiran Kabupaten Sambas, Kalbar, 1934, ini merupakan puncak atau periode awal tumbuh dan berkembangnya kesusastraan Indonesia modern di Kalimantan Barat. H.B. Jassin dan Ajip Rosidi memberikan penghargaan yang pantas untuk sastrawan yang sampai hari tuanya terus menetap di Kalbar dan tetap setia berkarya. Dan  atas dedikasi serta kualitas karya-karyanya itu maka kumpulan cerpennyaDemikianlah pada Mulanya secara khusus dibicarakan Korrie Layun rampan dalamCerita Pendek Indonesia, Buku II, seri khusus kritik cerpen (sedang dipersiapkan penerbitannya).
Pada periode yang sama, Yusakh Ananda didampingi oleh rekannya, seorang penyair kuat dari Kalbar, Munawar Kalahan (kini sudah almarhum). Sajak-sajak penyair yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kalimantan Barat ini juga dinilai berkualitas. Generasi sastrawan baru yang muncul setelah Yusakh Ananda dan kawan-kawan adalah Khairani Harfisari, Sulaiman Pirawan, Sataruddin Ramli, Effendi Asmara Zola, dan lain-lain. Karya-karya mereka dipublikasikan di media massa lokal seperti koran dan radio di kota Pontianak. Dekade 1980-an, lewat komunitas “Kelompok Penulis Pontianak” (KOMPAK – dideklarasikan 1 April 1984) yang dimotori oleh sastrawan muda Odhy’s dan kawan-kawan, generasi baru sastrawan mulai bermunculan, seperti Aant S. Kawisar (sempat menjadi redaktur di majalah sastra Horison), Aryo Arno Morario, Diant MST, Dharmawati TST, Mizar Bazarvio, Odhy’s, Tulus Sumaryadi, Tadjoel Khalwaty AS, Zailani Abdullah, Yudhiswara, Wyaz Ibn Sinentang, Chandra Argadinata, Mizan AR, Suwarto S, Uray Kastarani Has, dan Nie’s Alantas. Oleh perkembangan media massa, baik daerah maupun pusat (Jakarta), bermunculan pula nama-nama Mayzar Seylendra, Aspan Ananda, Pradono, Mulyadi, Syarif Zolkarnaen Shahab, Yoseph Oedilo Oendoen, Harun Das Putra, dll. Karya-karya mereka ini tersebar di harian Akcaya di Pontianak dan di sejumlah media massa di Jakarta seperti Horison, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Kompas, Swadesi, Mutiara, Merdeka, Media Indonesia, Republika, Pelita, majalah Kartini, Amanah, Panji Masyarakat, dll.
Puncak kesusastraan Indonesia mutakhir di Kalimantan Barat ditempati oleh dua penyair yang keduanya sudah almarhum, yaitu Odhy’s (1955-2005) dan Yudhiswara (1957-2006) yang sempat memublikasikan sajak-sajak mereka di media massa Jakarta dan kota-kota lainnya di Kalimantan, Jawa, Sumatera, Brunei Darussalam, dan Malaysia, di samping telah menerbitkan sajak-sajak mereka dalam antologi tunggal maupun bersama. Odhy’s (nama lengkapnya Muhammad Zuhdi Saad, lahir di Pontianak, 8 Agustus 1955, dan meninggal dunia di India, 3 Mei 2005) mulai menulis, terutama cerpen, puisi, esai, artikel, dan resensi buku sejak 1975. Karyanya dipublikasikan di berbagai media massa daerah dan Jakarta. Antologi sajak tunggal terbarunya adalah Sang Guru Sufi(penerbit BUKULAILA, Yogyakarta, Maret 2005). Sosok kepenyairan dan karyanya juga tercantum dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia, dan Buku Pintar Kesusastraan Indonesia (keduanya dieditori Pamusuk Eneste), Jejak Langkah Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 1986), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, 2002), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan KorrieLayun Rampan, dalam proses penerbitan). Odhy’s juga sering diundang membacakan sajak-sajaknya di berbagai forum sastra(wan) di tanah air dan  kegiatan sastra di negara serumpun, antara lain: Forum Puisi Indonesia (TIM, Jakarta, 1987), Dialog Borneo (Serawak, malaysia Timur, 1987), sebagai pembicara dalam Pertemuan sastrawan Nusantara VI (di Kuching, Malaysia Timur, 1988), Dialog Kalimantan Borneo IV (Pontianak, Kalbar, 1995),  Simposium Antarbangsa Raja Ali Haji (Pulau penyengat, Riau, 1996), dan beberapa forum sastra lainnya. Forum sastra yang tak sempat diikutinya – beberapa bulan sebelum acara diselenggarakan ia sudah wafat – adalahCakrawala Sastra Indonesia, di Taman Ismail Marzuki, 13-15 September 2005 (penyelenggara Dewan Kesenian Jakarta). Dalam acara ini DKJ juga menerbitkan antologi puisi Perkawinan Batu (DKJ, 2005) yang memuat puisi para penyair Kalsel, Kaltim, dan Kalbar. Judul antologi itu diambil dari salah satu judul sajak Odhy’s “Perkawinan Batu”. Semasa hidup dan berkiprah di dunia sastra, Odhy’s juga aktif bergiat di Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB, sebagai Ketua Komite Sastra) dan Dewan Kesenian Kota Pontianak (DKKP, juga menjabat Ketua Komite Sastra). Sementara sajak-sajak Yudhiswara juga dipublikasikan di berbagai media massa Jakarta, Brunei, Malaysia, dan sempat pula menerbitkaan 9 antologi puisi,  di antaranya  Hujan Lolos dari Sela Jari danJakarta dalam Puisi Mutakhir (Masyarakat Sastra Jakarta, 2000, editor Korrie Layun Rampan). Beberapa sajaknya juga dimuat dalam bunga rampai Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Buku II (susunan Korrie Layun Rampan).
Maraknya komunitas sastra di tahun 1980-an dan 1990-an di Kalbar, khususnya di kota Pontianak, seiring waktu makin menampakkan kesenyapannya. KOMPAK (Kelompok Penulis Pontianak), HPCP (Himpunan Pencipta Cerpen dan Puisi), HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara), Komite Sastra di Dewan Kesenian Kalbar maupun Dewan Kesenian Pontianak, hingga hari-hari terakhir ini sudah tak terdengar lagi gaung kegiatan maupun lahirnya karya-karya besar dari para sastrawannya. Apalagi sepeninggal Odhy’s dan Yudhiswara – sebagai motor penggerak ataupun motivator sastra(wan) – kegiatan dan perkembangan sastra nampak tersendat-sendat hingga berujung pada krisis penciptaan karya sastra. Semoga saja masa-masa stagnasi di ranah sastra Kalimantan Barat ini tidaklah berkepanjangan.
***
Demikianlah gambaran sepintas tentang sastrawan dan komunitas sastra di empat provinsi Kalimantan dari dekade ke dekade pertumbuhan dan perkembangannya. Sastra Indonesia di Kalimantan, bagaimana pun ia masih bernapas, berdenyut, bergerak, dan  bersuara, di tengah riuh-gemuruhnya eksploitasi dan eksplorasi membabi-buta para penjarah, perampok, begal,  terhadap kekayaan sumber daya alam (hutan, minyak bumi, batubara, bijih besi, emas) di Kalimantan yang semakin terkikis dan kritis hingga berdampak pada bencana longsor dan banjir di mana-mana. Ya, sastra dan sastrawan di Kalimantan, sampai hari ini masih tetap hidup, punya tempat dan peran di ranah kesusastraan Indonesia!
Palangka Raya, Desember 2007-Banjarmasin, Januari 2008.
Daftar Pustaka
Hijaz Yamani, Kegiatan Para Sastrawan Kalimantan Selatan dari Waktu ke Waktu, makalah “Temu Sastrawan se-Kalimantan Selatan 1998” (Komite Sastra Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, September 1998).
Korrie Layun Rampan, Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia (harian Merdeka, 9 Juni 1983).
Korrie Layun Rampan, 70 Tahun Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan (Radar Banjar, 8 Juni 2003).
Micky Hidayat, Mengenal Kegiatan Sastra di Kota Pasir, Palangkaraya: Menaburkan 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar