ARTI SEBUAH PERSAHABATAN
( karya : Annisa M. Andhiani )
Sunyi.
Sepi. Lara. Itulah yang dialami Ratih
semenjak ditinggal pergi Ayah dan Ibu tercinta untuk selamanya. Ya, mereka sudah meninggal
setahun yang lalu karena kecelakaan saat bepergian ke luar kota. Ratih sangat syok ketika perawat RSUD Agoes
Djam memberi khabar bahwa kedua orangtuanya berada di rumah sakit. Yang lebih
membuat gadis kecil itu terpukul adalah saat perawat itu bilang Ayah dan Ibunya
sudah tiada.
Walau
pun sekuat hati ia berusaha untuk melupakan kejadian itu, tetap saja peristiwa mengenaskan yang menimpa
kedua orangtuanya masih membekas di hati. Ratih trauma. Ia berharap ada seorang
teman yang bisa menghibur hari-harinya. Dan sampai saat ini ia belum
mendapatkan sahabat yang diimpikan itu.
“Tok..tok..tok.
Non, ada surat untuk Non !” Bi
Ratna mengetuk pintu sambil memanggil
Ratih yang sedang terbaring di kamar.
“Ada apa sih, Bi?” sahut Ratih dari dalam kamar.
“Ini, ada surat untuk Non,” jawab Bi Ratna.
“Oh, ya..selipin di bawah
pintu saja suratnya Bi,” ujar Ratih.
“Baik Non,” sahut Bi Ratna kembali.
Tak
lama berselang Ratih bangun dari
tidurnya, dan membuka pintu kamar untuk mengambil surat yang diberikan Bi Ratna tadi. Betapa terkejutnya saat ia
membaca surat itu. Ternyata surat itu dikirim oleh seseorang yang tidak
dikenalnya. Lebih mengejutkan lagi, orang itu bilang kalau dia ingin menjadi
sahabat penanya. Hatinya sangat senang saat membaca surat yang dikirim oleh seseorang yang ternyata bernama Vira.
Sahabat barunya itu tinggal di Sukadana. Dari sinilah mereka akhirnya sering
mengirim curhat lewat surat. Jalinan
persahabatan mereka pun semakin akrab dan harmonis.
Kini,
hidup Ratih tidak seperti yang dulu lagi. Ia tidak merasa hidup sendiri dan
kesepian lagi. Semua itu sudah lebih baik dari kehidupan yang ia rasakan dulu.
Ia berharap Vira akan menjadi sahabat sejati untuk selamanya.
Pada
suatu hari ketika Ratih hendak mengirim surat buat Vira, ia mengabarkan, “Vira,
kalau tak keberatan, aku ingin kamu
menyertakan fotomu di dalam surat yang nanti hendak kamu kirim balik
kepadaku.”
Dan
tak berapa lama surat balasan dari Vira pun datang. Ternyata ia menyelipkan
foto dirinya di dalam surat itu. Dengan perasaan suka cita dibukanyalah surat
itu.
“Rat, ini adalah fotoku, semoga kamu senang
melihatnya,” tulis Vira.
“Ooo....jadi ini ya wajah Vira. Cantik
sekali,” ucap Ratih dalam hati tersenyum gembira.
Ratih pun kembali membalas surat yang
di kirim Vira tadi. Ditulisnya kata-kata di atas kertas berwarna pink bergambar
Snow White.
“Vir, makasih ya udah ngirimin foto
kamu. Kapan-kapan bisa nggak kita ketemuan ya?”
Tetapi setelah beberapa hari menunggu, surat balasan dari Vira tak kunjung
tiba.
“Tok..tok..tok.! Non, ada surat dari kawannya Non !” panggil Bi Ratna mengetuk pintu kamar Ratih.
“Haahh..??!!
Itu pasti surat dari Vira!” ucapnya dalam hati.
Ratih pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menemui Bi
Ratna.
“Bi,
mana surat yang tadi Bibi mau kasih ke aku?” tanya Ratih tak sabaran.
“Ini
dia Non suratnya !” jawab Bi Ratna sembari memberi surat itu kepada Ratih.
Dugaan
Ratih ternyata benar. Tapi ada yang aneh saat ia membaca surat dari Vira kali
ini. Dalam suratnya Vira bercerita, “Ratih sahabatku, nampaknya persahabatan
kita harus berakhir sampai di sini. Aku tidak dapat mengirim surat lagi sama
kamu. Karena aku harus pergi selamanya dari dunia ini. Jika kamu ingin
menjengukku, kamu pergi saja ke Rumah Sakit Agoes Djam. Kamu tidak perlu
informasi banyak dariku. Kamu akan tahu sendiri nanti. Kalau kamu tak mau
terlalu bersedih nantinya, sebaiknya kamu pergi sekarang juga ke rumah sakit
itu. Salam Persahabatan!”
Ratih bingung dengan apa yang
disampaikan Vira di dalam surat itu. Ia
heran, mengapa rumah sakit yang di sebutkan Vira tadi sama seperti rumah
sakit tempat Ayah dan Ibunya sempat dirawat dulu.
@@@@@@
Dengan
rasa penasaran, Ratih pun segera pergi ke rumah sakit yang disebutkan Vira di dalam surat tadi. Sesampainya di sana,
Ratih langsung mencari informasi dan bertanya kepada perawat jaga.
“Siang Suster, apa ada pasien di rumah
sakit ini yang bernama Vira Amelia dari Sukadana ? Dia baru masuk kemarin
malam,” tanya Ratih kepada perawat tersebut.
“Oh
ya...pasien yang bernama Vira Amelia memang sedang dirawat di rumah sakit ini,”
jawab sang perawat lagi.
“Dia berada di ruang mana ya, Sus?” tanya Ratih kembali.
“Dia
dirawat di Ruang Melati 4. Kalau memang adik ingin menjenguknya, lebih
baik segera ke sana,” ucap si perawat
dengan raut wajah serius.
“Memangnya kenapa, Sus?” tanya Ratih heran.
“Sakitnya
parah. Menurut dokter, hidupnya
diperkirakan tinggal beberapa
waktu lagi,” kata sang perawat.
“Haahh??!! Apa ? Memangnya dia menderita penyakit apa, Sus?” Ratih
gelisah. Wajahnya memucat.
“Anak
itu menderita tumor ganas di dalam otaknya. Kasihan sekali gadis itu.” ucap
perawat itu.
Tanpa
basa-basi dan permisi, ia segera pergi menuju ke ruang tempat Vira di rawat. Ia
berjalan setengah berlari sambil meneteskan air mata.
Akhirnya Ratih sampai di depan ruang di mana Vira
dirawat. Dia segera masuk ke dalam kamar tersebut.
Ratih tak kuasa menahan air matanya
lagi, ketika melihat sahabat penanya yang ia sayangi tergolek di atas ranjang
putih. Diam tak berdaya dengan selang infus menempel di hidung dan tangan. Di
ruangan juga ada kedua orangtua Vira,
kakak dan adiknya. Mereka bersedih.
Ratih menanyakan hal tersebut kepada
Mama Vira. Mama Vira menjelaskan bahwa Vira mengidap penyakit ini sudah sejak
lama. Saat mengetahui penyakit yang diidapnya, Vira merasa syok dan tak mau bermain dengan teman-teman seusianya.
Ia merasa minder. Sejak itulah Vira sangat merasa kesepian dan terasing.
Dari
situlah akhirnya Ratih mengerti mengapa Vira sampai-sampai mengirim surat
kepadanya. Niatnya hanya satu, ingin
berteman.
Ratih
mendekati Vira, lalu memegang tangan Vira sambil berkata, “Vir, walau
pun kita tidak pernah bertemu selama ini, dan kita hanya dapat bertukar cerita
lewat kata-kata , tapi kita tetap menjadi sahabat sejati.”
Ratih
menangis sesunggukkan di hadapan Vira.
Vira hanya bisa diam tak bersuara di atas tempat
tidurnya. Melihat Vira yang tergeletak tak berdaya, air mata Ratih mengalir
semakin deras.
Tak lama kemudian tangan Vira mulai bergerak
perlahan-lahan dan ia juga dapat mengeluarkan kata-kata pelan. Melihat kejadian
itu, mama Vira segera memanggil perawat
yang lewat di depan kamarnya. Dan perawat itupun memanggil dokter.
Setelah Vira di periksa dokter, dokter menyatakan bahwa Vira sudah bebas dari
masa kritisnya.
Setelah
melewati beberapa tahap pemeriksaan, dokter berkata bahwa kondisi Vira sudah
mulai membaik. Walau belum seratus persen pulih. Paling tidak ia dapat melewati
masa kritis. Semua itu kuasa Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang, sehingga
Vira dapat bertahan. Allah-lah yang mengatur semua kehidupan kita. Hidup atau
pun mati.
Ratih
sangat bersyukur kepada Allah, karena sahabatnya Vira telah diberi kesempatan
untuk hidup, juga diselamatkan dari penyakit maut. Ratih pun berterima kasih
kepada Allah karena telah memberikan pengalaman hidup yang berharga bagi
dirinya. (Ketapang, Maret 2012)***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar